Senin, 28 Juni 2010

Skandal Cinta

Skandal Cinta

Rasanya lezat, kuahnya enak, nasinya juga harum. Itulah cita-rasa sate Madura bagiku dan Irma. Kami sudah rutin, layaknya upacara sakral, untuk selalu makan sate Madura setiap malam minggu. Seperti malam ini, aku dan Irma sedang menikmati alunan kelezatan sate Madura yang enak di mulut, mengenyangkan di perut, bersahabat pula dengan dompet. Dan di warung sate Madura inilah tempat pertama kali kami bersua dan jatuh cinta pada pandangan kelima. Betulkah? Betul, betul, betul!!!
“Re, tadi Neza sms, temen aku yang yang tomboy tu, tau ‘kan? Nah, dia mau minta tolong translate-kan tugas Bahasa Jepangnya ke Bahasa Inggris. Bisa, Ta?” Irma membuyarkan bentangan lamunanku, dia melahap satu tusuk sate sekaligus ke dalam mulut mungilnya.
“Oh…ya my sweatheart, bisa, bilang ja ma Neza, antar tugasnya tu besok ke kos dirimu ya,” tukasku sambil melalhap habis satu tangkai daging sate juga. Begitulah, terkadang dia memanggil namaku, terkadang pula dia memanggilku “Ta”, ujung dari kata “Cinta”.
* * *
“Ir, mana Neza-nya?” aku sudah tidak nyaman duduk di depan kos Irma, sudah 4 jam kami menunggu.
“Bentar lagi Ta, sabar ya, Cinta.” Bujuknya sambil membelai kepalaku lembut. “Nah, itu Nezanya datang,” katanya lagi. “Kok lama kali sich, Nez?”
“Aduwh Ir, tadi ada urusan, makanya telat. Maaf ya!” Neza memelas.
Irma sering cerita tentang Neza, tapi aku belum pernah ketemu dengannya. Inilah kali pertama aku bertemu Neza. Dalam dongkol, kulirikkan mataku ke arah Neza. Dia memiliki rambut lurus sebahu, diikat seperti ekor kuda, mengenakan baju kaos kuning lengan pendek dan celana jeans biru selutut. Aku tidak percaya kalau ternyata ada gadis di bumi ini yang lebih ayu dari pacarku, tapi walaupun mataku terpana, hatiku sama sekali tidak terpesona, cintaku tetaplah untuk kekasihku Irma.
“Ini cowok Irma ya?” tanyanya sambil mengulum senyum. Aku hanya mengangguk dan membalas senyumnya. “Neza”, ujarnya sambil mengulurkan tangan.
Aku jabat tangannya, “Rehan.” Jawabku singkat. “Oh…ya, langsung aja, yang mana tugasnya?” tanyaku to the point.
“Ini,” Neza mengulurkan tiga lembar teks berbahasa Jepang. Aku segera menggarapnya, men-translate-kannya ke Bahasa Inggris.
Tidak lama kemudian aku menyelesaikan terjemahan itu. Aku menyodorkan 2 helai kertas yang dibelai udara seperti rambut Neza yang terurai dihembus angin sepoi-sepoi.
“Makasih ya.” Tutur Neza lembut, lalu Irma mengantarnya ke gerbang kos di bawah sore yang hampir senja. Setelah itu, langit berwarna jingga mengatup kisah pada hari itu.
* * *
“Kurang ajar!!!”
Buak!!! Tanganku berdarah meninju dinding, amarahku terbakar. Kekasihku yang selama ini kuanggap setia, ternyata bersikap seperti itu di belakangku. Selama ini aku percaya saja sama dia, tapi ternyata ini balasan atas kepercayaan yang telah kuberikan padanya. Dia telah menghujamkan belati ke jantungku. Dia telah menikamku dengan sadis dari belakang. Pengkhianatannya mengubur cintaku padanya dan membangkitkan kebencian yang tak terkira. Pantas saja kadang aku merasa aneh, kenapa ada nomor hp seorang cowok yang sampai dua tiga buah di hp
Irma. Satu nama tiga nomor dengan kartu yang berbeda, pantaslah Irma memiliki banyak kartu.
Nama cowok itu Bang Andi. Ketika aku tanya siapa Bang AndiIrma bilang kalau orang itu adalah abang angkatnya. Aku percaya saja padanya, tapi belakangan ini aku curiga. Setiap kali aku menelponnya, selalu tertulis ‘menunggu’ di hp-ku, bahkan saat kami makan sate, si Bang Andi juga kerap kali menghubungi Irma. Dan ternyata, si Bang Andi itu tidak lain tidak bukan adalah si Dika alias Andika Pratama, mantannya. Dia telah membohongiku. Dia masih berhubungan dengan mantannya di belakangku. Dia pernah berjanji padaku bahwa dia tidak akan pernah menjalin hubungan apa-apa lagi dengan mantannya, tapi sekarang… Dia mengingkari janjinya!!!
Kenapa dia tega melakukan semua ini padaku, padahal aku tidak pernah menyakitinya, aku selalu menyayanginya sepenuh hati. Pengkhianatannya bagaikan petir yang menghancurleburkan jasadku. Aku baru tahu semua itu hari ini, saat aku membuka facebook Irma. Di sana, aku menemukan pesan yang isinya mereka berdua janjian ketemuan nanti malam di kos Irma, di bawah pohon cherry di depan kos.
Begitu Irma pulang kuliah, aku menemuinya seperti biasa. Aku bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Irma bilang malam ini dia akan mengerjakan tugas kuliah, jadi tidak bisa ketemuan. Aku iyakan saja, lalu malam harinya, aku datang setengah jam lebih cepat dari waktu ketemuan yang telah mereka rencanakan. Pengintaianku tak ubahnya seperti pengintaian singa yang akan menerkam mangsa. Aku bersembunyi di balik pagar yang ditumbuhi bunga akasia yang cukup rimbun. Bulan enggan keluar dari selimut awan hitam, seakan takut melihat ledakan amarahku dan remuk redam hatiku.
Setengah jam berlalu, aku melihat Dika datang. Mereka duduk berdua, dekat, dekat sekali. Bara api amarah sontak menjalari urat-urat di sekujur tubuhku. Aku segera keluar dari persembunyian, Irma terkejut melihat kedatanganku. Tanpa banyak basa basi, aku mencengkram kerah baju Dika dan meninju wajahnya, perutnya dan menendang dadanya. Tak ayal, dia terjengkang. Irma berteriak histeris melihat kejadian itu. Belum puas dengan semua itu, aku mendaratkan bogem mentah ke mulut Dika sekuat tenaga sampai semua gigi serinya patah. Setelah itu, kupalingkan wajahku ke Irma.
“Mulai hari ini, kita PUTUS!!!” Bentakku dan berlalu meninggalkannya yang terisak-isak menangis. Aku tenggelam dalam gulita. Hatiku remuk tak bersisa. Air mataku menetes, menelusuri pipiku dan jatuh ke bumi setelah singgah ke dagu. Air mata itu adalah derai air mata terakhir untuk cinta. Persetan dengan cinta. Ternyata wanita itu pendusta. Semua wanita itu pembohong, pengkhianat!!! Aku menggerutu, mengutuk sepanjang malam.
* * *
Bulan demi bulan pun datang silih berganti. Bahkan tanpa terasa, sudah dua tahun sejak peristiwa agresi pengkhianatan cinta itu menimpaku, aku masih belum juga memiliki pacar baru. Aku hanya berjalan ditemani waktu menelusuri jalan setapak di taman belakang kampusku. Di tanganku bergelayut tas kotak dengan isi penuh buku.
Bruk!!!
Aku ditubruk dari belakang. Semua bukuku berserakan ke taman, sebagian malah nyungsep ke becekan yang digenangi air keruh.
“Kurang ajar!!!” hardikku seraya mengepal tinju. Aku akan segera mendaratkannya di wajah orang yang mengakibatkan semua ini. Tapi, berselang satu detik kemudian, jantungku berhenti berdetak, darahku membeku. Gadis itu tersenyum padaku dan meminta maaf, hatiku luluh, aku balas senyumnya dan menatap matanya. Kali ini, mataku terpana dan hatiku terpesona.
“Neza…” sapaku.
“Rehan…” balasnya sambil menatapku dengan senyum menggoda, betapa manisnya dia.***

Peradilan Rakyat

Tokoh-tokoh yang berperan
1. Pengacara muda
2. Pengacara tua
3. Seorang wanita

Peradilan Rakyat

Putu Wijaya seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum.

pengacara muda : "Tapi aku datang tidak sebagai putramu, aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini."

(Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung).
pengacara tua : "Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?"
pengacara muda: "Ayahanda bertanya kepadaku?"
pengacara tua: "Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung
tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini."

(Pengacara muda itu tersenyum).
pengacara muda : "Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku."
pengacara tua: "Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu."

(Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa).
pengacara muda : "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri."

Pengacara tua itu meringis.
pengacara tua : "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguh-sungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan."
pengacara muda : "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!"
(Pengacara tua itu tertawa).
pengacara tua: "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!"

(Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf).
pengacara tua : "Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan, jangan membatasi dirimu sendiri. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini."

(Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang).

pengacara muda : "Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog."
pengacara tua : "Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya."

pengacara muda : "Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.Aku ingin berkata tidak kepada negara, karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater, tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Di situ aku mulai berpikir. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Walhasil, kesimpulanku, negara sudah memainkan sandiwara. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia, bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun, tetap kejahatan. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati, walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku, maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda, karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih, karena aku yang menjadi jaminannya. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. Dan itulah yang aku tentang.Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih, sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini."

(Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Kemudian ia melanjutkan). "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu, apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku, bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya."

pengacara tua : "Lalu kamu terima?"( potong pengacara tua itu tiba-tiba).
pengacara senior : "Bagaimana Anda tahu?"

Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. Sebentar saja, tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. Sambil menghela napas kemudian ia berkata:
pengacara tua ; "Sebab aku kenal siapa kamu."

pengecara muda : "Ya aku menerimanya, sebab aku seorang profesional. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Sebagai pembela, aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya."

Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.
pengacara tua : "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan? Antara lain.
Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku."

Pengacara muda tertegun. Ia menatap, mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu.
pengacara tua : "Jadi langkahku sudah benar?"
(Orang tua itu kembali mengelus janggutnya).

pengacara tua : "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. Kau tolak tawaran negara, sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum, tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. Namun, tawaran yang sama dari seorang penjahat, malah kau terima baik, tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati, karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan, bukan?"
"Tidak! Sama sekali tidak!"
"Bukan juga karena uang?!"
"Bukan!"
"Lalu karena apa?"

Pengacara muda itu tersenyum.
pengacara muda : "Karena aku akan membelanya. Supaya dia menang?
Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. Sebab kebenaran sejati, kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Kalah-menang bukan masalah lagi. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Demi memuliakan proses itulah, aku menerimanya sebagai klienku."

Pengacara tua termenung.
pengacara tua : "Apa jawabanku salah?Seperti yang kamu katakan tadi, salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya, kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang, Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan. Tapi kamu akan menang. Perkaranya saja belum mulai, bagaimana bisa tahu aku akan menang.
Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. Bukan karena materi perkara itu, tetapi karena soal-soal sampingan. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini."

(Pengacara muda itu tertawa kecil).
pengacara muda : "Itu pujian atau peringatan?. Pujian.Asal Anda jujur saja. Betul?. Betul!. Tapi kamu menerima membela penjahat itu, bukan karena takut, bukan? Bukan! Kenapa mesti takut? Mereka tidak mengancam kamu? Mengacam bagaimana? Jumlah uang yang terlalu besar, pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Dia tidak memberikan angka-angka? Tidak."

Pengacara tua itu terkejut.
pengacara tua : "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?Tidak.Wah! Itu tidak profesional!"

Pengacara muda itu tertawa.
pengacara muda : "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang! Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?"
Pengacara muda itu terdiam.

Pengacara tua : "Bagaimana kalau dia sampai menang?Negara akan mendapat pelajaran penting. Jangan main-main dengan kejahatan!Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?"

Pengacara muda itu tak menjawab.
pengacara tua : "Berarti ya! Ya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!"

Orang tua itu terkejut. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Kedua tangannya mengurut dada. Ketika yang muda hendak bicara lagi, ia mengangkat tangannya.

pengacara tua : "Tak usah kamu ulangi lagi, bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut, bukan karena kamu disogok.Betul. Ia minta tolong, tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Aku tidak takut.
Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan, juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu, bukan? Betul. Kalau begitu, pulanglah anak muda. Tak perlu kamu bimbang.
Keputusanmu sudah tepat. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan, seakan-akan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak, kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional."

Pengacara muda itu ingin menjawab, tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan.
pengacara tua : "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Sudah jelas. Lebih baik kamu pulang sekarang. Biarkan aku bertemu dengan putraku, sebab aku sudah sangat rindu kepada dia."

Pengacara muda itu jadi amat terharu. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan.

pengacara tua : "Pulanglah sekarang. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional.Tapi..."

Pengacara tua itu menutupkan matanya, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Sekretarisnya yang jelita, kemudian menyelimuti tubuhnya. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda.
wanita : "Maaf, saya kira pertemuan harus diakhiri di sini, Pak. Beliau perlu banyak beristirahat. Selamat malam."

Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu, pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu, agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik.

pengacara muda : "Katakan kepada ayahanda, bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Kalau tidak, kita akan menjadi bangsa yang lalai."

Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk, lalu meloncat ke mancanegara, tak mungkin dijamah lagi. Rakyat pun marah. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan, menyerbu dengan yel-yel dan poster-poster raksasa. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Hakimnya diburu-buru. Pengacara muda itu diculik, disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Tetapi itu pun belum cukup. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah.

Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Sementara sekretaris jelitanya membacakan berita-berita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk, air mata menetes di pipi pengacara besar itu.

pengacara tua : "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional, anakku," rintihnya dengan amat sedih, "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Bukankah sudah aku ingatkan, aku rindu kepada putraku. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional, tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya, kalau berhadapan dengan sebuah perkara, di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini?"

Antara Aku dan Abel

Nama : Ira Febrianti

Antara Aku dan Abel

Aku sudah lama mengenal Abel lama sekali, sejak SMP, eh SD, ah atau mungkin sejak aku lahir, karena Abel selalu ada untukku, selalu menemani aku, tempat aku mengadu, tertawa bersama bahkan saat aku ada masalah Abel-lah yang pertama kali tahu.
Hingga suatu hari Abel harus pergi, dia lulus SMPTN dengan angka luar biasa. Itulah yang aku kagumi dari Abel. Dia pintar, cakep dan selalu perhatian, dan dia tak pernah bisa melihatku menangis. Dia telah menjadi bagian hidupku. Mulanya aku senang karena Abel berhasil lolos di Fakultas Psikologi yang sangat diimpikannya. Tapi aku terpana ketika tahu universitas mana yang berhasil dimasukinya.
“Mengapa harus jauh-jauh di Pekanbaru? Mengapa tak di sini saja, apa sih kurangnya Jogja buat kamu?” Kutatap matanya yang terus saja memancarkan girang.
“Witri, di manapun tempat kuliah itu sama saja! Jogja, Pekanbaru. Tinggal kita nya aja kok….” Jawabnya.
“Tapi….”
“Percayalah, aku baik-baik saja di sana!” Potongnya
Kupejamkan mataku, mungkin kamu akan baik-baik saja tapi aku? Apa aku bisa terus di sini tanpa kamu? bisik hatiku.
“Sampai di sana kamu pasti akan melupakanku….” Air mata ini tak sanggup kubendung lagi, aku bahkan terisak isak, Bintang hanya tersenyum. Ia menarikku dalam pelukannya aku menangis di bahunya.
“Tak akan pernah Witri! Mana mungkin aku bisa melupakan anak manja dan cengeng sepertimu….”
Kutinju bahunya aku meronta dari pelukannya,dan berlari menjauh darinya. “Ingat Bintang! Aku bukan anak kecil lagi “ Jeritku
Dia tertawa dan terus mengejarku, selalu saja begitu. Kami sudah sangat dekat, dekat sekali, sementara senja bergulir perlahan, tempiasan sinarnya memantul di permukaan telaga. Liburan kali ini seperti juga liburan kemarin selalu saja dihabiskan di tempat ini, di Telaga Sarangan, tapi kami tak pernah bosan. Bahkan ketika liburan tahun sebelumnya Romo mengajakku ke Rotterdam mengunjungi Oom Peter, Aku sedih sekali tak bisa ke Sarangan bersama Abel.
“Jangan menangis gitu dong, Witri! Jogja-Pekanbaru itu nggak jauh kok, aku kan bisa telpon kamu. Ayo se-nyum! Masa jagoan cengeng…” Ejek Bintang ketika aku mengantar kepergiannya di Bandara.
Aku mencoba tersenyum, kamu nggak tahu Abel, Meskipun aku bisa telpon kamu seharian pun tetap beda kalau kamu tak ada di dekatku, kamu nggak bisa temani aku ke Perpustakaan lagi, jalan-jalan ke Malioboro, ke Alun alun atau ke Sarangan, nggak bisa lagi!
***
Satu tahun terakhir Abel mulai jarang menghubungiku, ketika kutanyakan dia hanya menjawab “sibuk.” Sibuk berorganisasi-lah, sibuk kuliah, dan segala macam alasannya. Aku maklum, aku percaya Abel tak pernah bohong padaku.
Dua tahun di awal, Abel tak pernah menghubungiku lagi. Telpon kost-nya ketika kuhubungi diangkat temannya, dan dari temannya kutahu Abel sudah pindah. Handphone-nya tak pernah aktif. Lalu kutulis surat lewat email, lama sekali baru dibalas.
“Dear Witri…
Maaf baru ku balas email kamu, aku sangat sibuk Wit, semester depan aku PKL, setelah itu aku KKN, Witri belajar yang rajin, sebentar lagi UN khan? Moga-moga lulus. Lam sukses…
Setelah itu Abel tak pernah lagi membalas emailku, berkali-kali aku meminta alamat barunya atau nomer handphonenya tapi Abel tak pernah membalas emailku.
Hari-hari menjelang UN makin dekat, sejenak Abel terlupakan, sebagai gantinya tiap malam sebelum tidur aku memandangi bintang-bintang di langit, menumpahkan semua sedih, perih dan juga rindu. Aku selalu berharap bintang-bintang itu menyampaikan keluh kesahku pada Abelku yang selalu saja sibuk.
“Mungkin kamu mencintai Abel, Wit. Mengapa kamu nggak pernah jujur padanya…” ucap Luna suatu hari, satu-satunya orang yang dekat denganku setelah kepergian Abel.
“Entahlah Luna, aku nggak tahu…” jawabku datar.
“Kamu membohongi diri sendiri kalau bilang nggak cinta sama Abel!” lanjut Luna.
Kubiarkan semua ucapan Luna mengambang di kesejukan senja. Seperti tak percaya aku datang ke Sarangan bersama Luna, bukan bersama Abel! Cepat kubuang jauh semua anganku tentang Abel. Abel sudah melupakanku. Ternyata apa yang pernah kutakutkan dulu terjadi juga. Pelan kugoreskan pena di atas diary kecil yang selalu kubawa ke mana-mana.
Seruling bambu
Merdu walaupun sendu
Menyentuh daun-daun waru
Menyentuh celah-selah kalbu
Telaga Sarangan menyimpan misteri
Sampai kini tak kumengerti
Senja makin kelabu. Kutinggalkan Sarangan dengan berbagi macam kecamuk di kepala, benarkah Abel telah melupakanku? Mengapa?
***
Hasil kerja kerasku selama hampir dua tahun penuh tak sia-sia, aku lulus UN dengan nilai menakjubkan. Romo dan Ibu bangga padaku, semua mengucapkan selamat padaku, bahkan Oom Peter menawariku kuliah di negerinya. Tapi aku menolak, sama halnya ketika aku ditawari beasiswa di berbagai PTN atau New Orleans, (untuk tawaran yang satu ini aku tak pernah memberitahu Romo dan Ibu, karena aku yakin beliau pasti marah jika tahu aku menolak beasiswa dari sebuah Universitas ternama di New Orleans.) Sebenarnya ini kesempatan langka, tapi aku sudah punya rencana sendiri,dan saat kuutarakan pada Romo aku membuat beliau marah dan kecewa.
“Apa!! Pekanbaru? Lebih baik kamu masuk UI saja!“ kata Romo
“Tapi Romo, Witri ingin mencoba hal baru, Witri ingin hidup mandiri tanpa Romo dan Ibu, saya pikir Pekanbaru tempat yang bagus…” hampir menangis aku meyakinkan Romo. Dan Romo pun akhirnya luluh.
Begitulah kutinggalkan Romo dan Ibu, aku ingin mengejar mimpiku, aku ingin mencari Abel. Pekanbaru adalah hal baru bagiku tapi aku yakin akan menemukan Abel dan bisa bersama-sama dengan Abel lagi. Aku tinggal di sebuah apartemen kecil, bersama dengan beberapa mahasiswa dari berbagai kota dan daerah. Akhir-akhir ini aku dekat dengan seorang mahasiswi sebuah Universitas Negeri asal Medan, kak Tria.
“Nda, kenapa sih kamarmu penuh dengan segala macam benda dan hiasan bintang? kamu suka sama bintang?“ tanyanya suatu hari.
Aku memandang semua barang-barang itu, mulai dari bantal yang berbentuk bintang, stiker-stiker bintang, jam berbentuk bintang, selimut dan sprei yang bergambar bintang, handuk dengan motif bintang, gantungan kunci, mang-kuk berbentuk bintang dan gelas dengan hiasan bintang, dinding bercat dengan gambar bintang, buku, kotak sabun, kotak pensil, lemari semua penuh dengan segala macam tentang bintang.
“Aku terobsesi dengan Abel, kak. Aku ingin selalu dekat dengannya dan ingin memilikinya, karena dia juga suka bintang“
“Kakak juga suka Bintang, Nda, karena cowok kakak juga suka banget ma bintang.
“Orang? Maksud kakak? Kakak kenal Abel?“ tanyaku.
“Ya, nanti malam dia ke sini, kakak mau kenalkan dia sama kamu…“ Ucap Kak Tria sebelum berlalu dari depan kamarku.Aku terlolong mendengarnya, Abel kah?
***
Aku memandang mereka dari kejauhan, kak Tria bergandengan dengan seseorang, dan rasanya aku sangat mengenalnya.
“Nda, ini Abel, pacar kakak. Abel, ini Nanda, adik yang tinggal serumah denganku…“ Kak Tria memamerkan senyum lesung pipitnya.
Aku tak mampu mengulurkan tangan, tubuhku beku, aku ingin memeluknya, menumpahkan semua rindu yang ada, tapi tak bisa, ada kak Tria yang memegang lengannya erat.
“Witri…apa kabar? Tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu…“ ucap Abel. Aku tersenyum kecut. Kamu jahat, Abel! Kamu melupakan aku, dan sekarang tak ada sedikit pun ucapan maafku untukmu, umpatku dalam hati.
Aku tak sanggup menahan pera-saanku, hati ini rasanya mau meledak. Aku pergi dari hadapan mereka yang menatapku dengan tak mengerti, aku menuju kamarku, kubanting pintu dengan keras hingga terdengar sampai ke beranda tempat mereka duduk berdua.
Namaku Witri Ananda, seorang gadis bodoh yang menyia-nyiakan waktunya untuk hal yang tak pasti, mengharap seseorang tanpa mau mengakui perasa-annya sendiri. Uh… Abel takkan pernah tahu perasaanku, dia pasti menganggapku hanya sebagai teman atau adiknya karena aku tak pernah berani jujur padanya tentang semua ini. Aku kecewa dengan pertemuanku dengan Abel. Aku sedih, Abel telah menjadi milik orang lain. Tapi biarlah aku mengabadikan hadirmu melalui bentuk-bentuk abstrakmu, Abel. Biarkan aku mencintaimu dari jauh, hingga perlahan rasa itu reda.
***

CInTa tErLaRaNg

Nama : Emilia
NIM : 2007112084

NaSkAh dRaMa

TokOh-tOkoH
BuDi ( suami SuSi DAN rImA)
SUsI (sebai istri 1 dari Budi)
RiMa (adik kandung Susi)
eKa (Teman SuSi)
ibu Susi dan RiMA


CInTa tErLaRaNg

Dalam sebuah keluarga kebersamaan dan kesetiaanlah yang menjadi satu kunci pokok agar keluarga dapat harmonis dan tenram. Namun bagaimana ketika sosok keluarga tersebutdi hianati degan adanya perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu dari suami ataupun istri, mungkinkah kelurga tesebut bisa dipertahankan??
Susi memiliki sorang pacar yang sangat tampan dan gagah. Namun setelah mereka menikah hidup dalam satu lingkungan keluarga yang bersama dengan keluarga dari pihak perempuan atau istri.

Susi : pa saya pergi dulu ya, mau ke pasar beli perlengkapan dapur yang sudah mau habis.
Budi : Ya ma, tapi papa ngak bisa ngantar lagi ngak enak badan..hati-hati di jalan ya……!!
Susi : ya papa….Rima……rim…
Rima : ya mbak…
Susi : kamu ngak kerja kan hari ini??mbak mau belanja mungkin agak lama karena mau langsung ke dokter periksa kandungan.
Rima : sipa bos…

Susi pun peergi dan dengan tergesanya meninggalkan rumah..yang berada di rumah hanyalah Budi dan Rima, sedangkan ibu susi pergi keluar kota..
BuDI : Rima, tolongin kakak…
Tolong buatin kakak kopi tadi mbak mu ngak sempat lagi buatinnya..
Rima : ya….
Ini kak kopinya…

Budi : Kamu ngak kerja ma hari ini?
Rima :Ya kak bosnya pergi keluar kota jadi rima ngeliburin diri
Budi : Kamu makin cantik ja ma setiap harinya

Budi selalu saja merayu rima, dia memang cukup dekat dengan rima semenjak susi dan Budi berpacaran..dan tak luput pula rayuan-rayua yang keluar dari mulut Budi untuk adik iparnya itu.

Rima : Kakak bisa ja merayu, ntar di marah mbak susi lo…
Budi : mbakmu kan tidak akan pernah tahu, mengenai ini…

Rimapun termakan bujuk rayu yang dilontarkan oleh kakak iparnya yang gagah itu. Memang rima sudah lama menaruh simpati pada kakak iparnya itu. Karena seringnya Susi pergi keluar rumah semakin banyak pula kesempatan Budi dan Rima berduan di rumah sampai mereka terjebak dalam limbah hitam yang menjerumuskan keduanya..

Budi : Ma aku suka sama kamu, dan aku uga tahu kalau sudah sejak lama juga suka kan sama aku…
Rima : kakak apa-apaan sich??kakak kan suaminya mbak Susi??
Budi : ya, tapi aku lebih suka sama kamu…

Rimapun tersipu malu dan jantungnya berdetak kencang, Susi tidak pernah menaruh curuga pada suami dan adiknya itu pada saat ia pergi dari rumah, namun semua itu salah karena kepergian Susi itulah yang memeberi peluang keduanya selalu berdua, Pada minggu selanjutnya ketika susi pulang dari berbelanja dia curiga pada kamar Rima ada suara sosok laki-laki, dan diapun membuka pintu

Susi : ha…kalian??apa yang kalian lakukan??kalian gila….
Budi : ma..maaf ma ini tidak seperti yang mama kira
Rima : ya mbak salah paham
Susi : jadi ini yang sering kalian lakukan kalau aku ngak di rumah?kalian memang tidak berperasaan…

Susi sangat marah pada adik dan suami yang dia cintai itu, namun rasa bencinya kepada kedua itulah yang mengharuskannya untuk pergi dari rumah…ibu Susi sangat panic ketika mendengar berita dari anaknya itu, dan ibunyapun mengusir putri bungsunya beserta menantunya itu.

Rima : Mas aku masih merasa bersalah sama mbak Susi, aku mau mintak maaf mas
Budi : ya mas juga merasa sangat bersalah
Rima : kita harus cari mbak Susi mas, harus…
Rima dan budipun selalu mencari keberadaan Susi, mereka merasa bersalah karena semenjak mereka menikah mereka selalu dihantui rasa takut yang dalam…hingga suatu ketika Rima melihat adanya sedikit petunjuk yang mengarah pada keberadaan Susi

Rima : Eka…..eka,,,kamu teman dekatnya mabk Susi kan??pasti kamu tahu dimana mbak Susi sekarang..
Eka : apa-apain kamu, aku ngak tahu dimana Susi yang aku tahu kalian berdua itu penghianat, syaraf gak punya perasaann…
Budi : ya Eka maka dari itu kami mau mencari Susi, kami mau meminta maaf…
Eka : aku sudah bilang, aku tidak tahu…
Rima ; sekarang kamu mau kasih tahu pa nggakkk??atau?/
Eka : atau apa??
Budi langsung mencegah berseteruan mereka agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun karena mendEngar suara rIbut yang cukup keras akhirnya Susi keluar dari kosan yang di temapat Eka dan dirinya..

Rima ; mbak….mbak Susi, aku mau mintak maaf mbak..
Budi : Susi, kami betul-betul minta maaf Sus
Susi : mau apa lagi kalian ke sini, aku sudah muak melihat muka kalian, jangan ganggu hidup aku lagi. Pergi pergi….

Dan susipun langsung masuk ke dalam kosannya serentak degan keras ia menutup pintu rumah..

Eka : jadi kalian tunggu apa lagi, susi sudah ngak mau ketemu kalian lagi, pergi….pergi….
Rima dan Budi tidak bisa berbuat apa-apa lagi, mereka pulang dengan muka yang penuh rasa bersalah, yang bisa mereka lakukan hanyalah berserah kepada ALLAH dan memohon taubatnya….


ThE EnD

TeMan LelaKiKu

Nama : Emilia
NIM : 2007112084

TeMan LelaKiKu

Wah.. murid baru nie..?ungkap seorang co ganteng ma anak-anak yang lainketika aku memasuki kelas baru itu. “Namaku Emlie, Pindahan dari Jakarta”ungkap Emli saat memperkenalkan dirinya di depan kelas sebagai murid baru.
“Emli silahkan kamu duduk di depan !” ujar buk Ratna, wali kelas ku yang menempatkan aku disalah satu kursi yang masih belum di tempati.
“Daniel, tolong kamu pindah ke depan dan duduk di samping Emli yang akan menemani Emli di kelas barunya.
“Emli ini Daniel, ketua kelas X.4, ibu harap kamu betah di kelas dan juga menjadi teman yang baik terhadap anak-anak yang lainnya. Sebelum Emli memasuki sekolah barunya, Emli sudah mengenal nuk Ratna. Buk Ratna adalah teman ayahnya Emli, karena itulah buk Ratna sangat memperhatikan Emli sampai-sampai buk Ratna menitipka Emli kepada Daniel murid kepercyaan buk Ratna untuk nemanin Emli. Dan semenjak itulah awal dari kisah persahabatan Emli dan Daniel.
“Duh…Gak pernah-pernahnya aku duduk ma co, ciwokan gak bisa ngertiin ce, gimana aku bisa nyambung ngobrol ma dia. Dunia ce dan dunia co kan beda.! Ungkap Emli resah. Tiba-tiba terhempaslah lamunan Emli.
“pindahan dari sekolah seberang ya? Kalo boleh tahu kenapa pindah ke sini? Tanya Daniel yang sangat peduli dengan teman barunya itu.
“Bapakku pindah tugas n kerja disini, jadi terpaksa deh pindah kesini.
Tiba-tiba ada ce manis menghampiri Emli.
“kenalin aku Mimi, aku harap kita bisa jadi teman yang baik??” ujar mimi dengan ramah sambil menyodorkan yang berharap banget aku jadi temannya.”
“dengan senang hati,” balas Emli dengan ramah menerima Mimi menjadi teman baik buat Emli. Kemudian anak-anak yang lainpun satu persatu memperkenalkan diri ke kikan. “Mereka sangat ramah ke aku tapi tetap aja gak buat aku ngerasa betah tinggal di sini, sekolahannya ja lebih asyikan yang di Jakarta.
“gimana sekolah barunya sayang??” ujar mama yang menyambut Emli setelah pulang dari sekolah barunya. “Lumayan enak si ma, tapi tetap ja enakan di Jakarta, anak-anaknya pada asyik, gak kayak di sini semua pada rada kuper!”Ungkap Emli dengan ekspresi suram sambil menghelakan nafas.
“lo bukannya kamu sendiri yang minta pindah?” ujar mama Emli yang menyangkal.
“iya ma tapi kan Cuma buat ngumpul bareng keluarga besarnya kita, tapi …gak tahu deh, sekolahannya kurang asyik aja buat Emli.
“sekarang kamu siap-sipa gih!kita mo makan malam di rumahnay Tania.
“waw yang benar ma?”Emli langsung semangat ketika mama nya mengajak makan di rumah Tania.
Tania adalah sepupu terdekat Emli, sudah dua tahun mereka tidak bertemu ketika mereka duduk di bangku kelas 2 SMP, mereka hanya bisa bertemu saat liburan sekolah ja. Itulah salah satu alas an Emli mo ikut kluarganya pindah .
“Ooo…jadi ceritanya kamu nyesal pindah ke sini?”ujar Tania waktu dengar curhatan Emli rada-rada BT dengan sekolahan barunya. Tania mang selalu jadi teman curhat to Emli, Segala hal Emli ceritakan kepada Tania. Sayang sekali mereka gak satu sekolahan, karena sekolah Tania jauh dari tempat tinggal Emli.
“hmm, uda gak terasa uda 1 bulan aku di sini, jadi kangen ma teman-temanku di Jakarta,lagi-lagi Emli melamun dalam pelajaran di kelas. “Emli kamu jawab soal no 2 kedepan..”Emli kaget dan terhempaslah lamunannya ketika pak Hendro menyuruh Emli menjawab soal Fisika ke depan. Untung saja tiba-tiba bel istirahat berbunyi. “Emli aku mo nanya ma kamu” Tanya Daniel menghampiri Emli di kantin.
“Aku sering meratiin kamu kayaknya kamu masih lum betah di sini ?”Tanya Daniel yang sangat perhatian dengan Emli.
“Iya dan aku masih sanagt asing di sini. Ungkap emli pada Daniel. “Emli kalo kamu mo aku bisa kok bantuin kamu” Thans ya Dan, kamu baik bangat”jawab Emli dengan senang.
Tiba-tiba yang tadinya wajah Emli suram berubah seperti orang yang baru saja mendapat uang milyaran rupiah. Ternyata Emli baru saja mendapat telepon dari paaranya.
“pacarmu ya?”Tanya Daniel penasaran ma orang yang sudah membuat Emli manjadi senang.
“Iya namanya Robin, kami sudah 3 tahun jadian. Sejak kelas 1 SMP dan sekarang kita pacaran jarak jauhdeh…”ungkap Emli menceritakan cerita cintanya ke Daniel.
“Kamu sendiri mana cenya?” Tanya Emi kembali.”uda sih aku sudah pacaran seitaran 2 tahun lamanya, tapi sekarang kami ada masalah sedikit.”ungkap Daniel yang curhat sedikit. “mudah-mudah kalian cepat baikan ya..”Ungkap Emli. “thanks ya ternyata kamu orangnya baik juga”
Keesokan harinya saat bel telah berbunyi tanda pelajaran akan dimulai, tiba-tiba Emli dtang dengan ekspresi yang murung dan langsung duduk di kursi sambilmenundukan kealanya di meja. “Kikan kamu kenapa? Kusut banget?”Tanya Daniel heran. “Dan semalem aku putus ma Robin, ternyata pacaran jarak jauh itu gak enak banget, mungkin ini jalan yang terbaik buat kita masing-masing.” Ungkap Emli pada Daniel.
“Emli biar kamu gak sedih lagi giman kalau kita pulang sekolah nanti jalan-jalan, habis itu aku traktir makan deh” ujar Daniel yang berusaha menghibur.
Emli sangat senang sekali lambat laun dipun sudah dapat melupakan Robin.

“Pa iy-iya..yang dibilang Tania…aku jatuh cinta ma Daniel dan apa salahnya aku ungkapkan prsaan aku ke dia” ungkap Emliyang tak bisa tidur.
Bel istirahat berbunyi Emli dan Daniel seperti biasa duduk sambl makan mie ayam di kantin
“Dan ada sesuatu yang yang pengen aku omongin ke kamu..”ungkap Emli yang tidak sabar ingin mengungkapkan persaannya pada Daniel.
“Sama, aku juga ada yang mo diomongin ke kamu, aku mo kasih tahu ke kamu kalo aku hari ni senang bangat..” Dengan wajah berbinar-binar Daniel mengekspresikan ke Emli.
“Ya uda kamu duluan yang ngomong, kayaknya kamu lagi senang bangat hari ini, ujar Emli yang ikut senang sekaligus penasaran.
“aku mo kasih tahu ke kamu kalo aku uda baikan ma ce aku, semalam aku ke rumahnya dan aku minta maaf ma dia, trus dia maafin aku, dan akupun langsung ajak dia jalaj-jalan dan sambil foto box gitu…,ni fotonya. Daniel langsung mengeluarkan foto itudari dompetnya dan langsung memperlihatkan ke Emli.
Emli terdiam sat melihat foto itu seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya ternyata Tania sepupunya lah pacar dari Daniel.
The End

kAsIh YaNg tErAbAiKaN

Nama : Emilia
NIM : 2007112084

kAsIh YaNg tErAbAiKaN

Lagu kepastian yang ku tunggu dari gigi mengalun indah di kamar Satria. Cowok ini sedang meratap sedih sambil memandang sebuah foto di tangannya. Ternyata foto itu adalah Emi, kekasih barunya. Kira-kira baru satu bulan mereka jadian, tetapi Satria mulai merasakan perubahan sifat Emi. Hingga pada satu hari Satria benar-benar kecewa tergadap Emi.
“Hi mi…,pulang bareng yuukkk!” Satria mengajak setelah Emi pulang dari kerja kelompok.
“Emmmm…Gimana yah? Aku sudah ada janji nie ma temen-temen kita mo nyelesaiin tugas ibu Leni, ya kan may?” Tanya Emi pada maya yang sedang bingung sendiri.
Maya hanya meng iya kan pertanyaan yang di lemparkan Emi padanya.
“Ya sudah, mungkin lain kali saja ya sat”. Satria pun berlalu dengan penuh kekecewaan.
“Mi, kok kamu ngak mo pulang bareng sama satria sich?? Padahal kan dia tadi sudah nungguin dari kita kerja kelompok,” Tanya maya.
“Emang siapa yang suru nungu. Lagi pula aku lagi males banget pulang bareng dia, bosennn.
“Mi, apa karma Satria sudah ngak punya motor untuk nganterin kamu?” Tanya Maya lagi.
“Aapa… sich biasa ja kali may. Sudahlah gakk usa dipikirin lagi” jawab Emi. Tak lama kemudian datanglah co ganteng yang bernama Nopan dengan selang waktu yang tidak begitu lama.
“Hi…Emi!! Pulang bareng yukk!!!” Ajakan Nopan dari motor yang besar.
“Hi, juga. Tapi nggakk usa kok. Ntar da yang ngambekk” tolak Emi sembari malu-malu
Nopan pun sambil tersenyum manis dengan selung pipinya.
“Sudahlah ayok naikk!!”ajak Nopan yang kedua kalinya.
“May, aku duluan ya…,”Pamitan Emi pada maya
Emipun akhirnya menerima ajakan dari Nopan. Namun tanpa disadari Emi secara diam-dian Satria ternyata masih memata-matai dirinya dari kejauhan.
Mungkin hal itulah yang membuat Satria uringan-uringan seperti sekarang.
Satria ingin sekali mengungkapakan kekesalannya pada Emi. Namun ketika melihat wajah Emi, rasa kesal, marah dan bencipun hilang dan menjadi luluh sehingga membuat Satria tidak berdaya.

Keesokan harinya di sekolah, Satria ingin menghampiri Emi. Namun sepertinya Emi memang tidak begitu mengharapakan kedatangan Satria. Buktinya saja, Emi sedang mengobrol dengan asyiknya bersama Nopan. Alhasil Satriapun menghampiri Maya teaman Emiyang sedang duduk sendiri.
“Hi, May,” Sapa Satria pelan.
“Hi Pan” Balas Maya
“May, aku boleh nanya nggakk??” Satriapun duduk disebelah Maya.
“Boleh, mang Nopan mo Tanya apa?” Tanya Sisil sambil tersenyum.
“Emi! Kan kamu temen deketnya. Aku Cuma mo nanaya, menurut kamu Eami berubah nnggakk?” Tanya Satria serius.
“Beerubah??hehe memangnya pawer rangeer Pan?? Jawab Maya sambil tersenyum lebar.
Ya nggak la Pan..
“Pa Cuma sama aku ja ya??” Mungkin Nopanpun langsdung menjawab.
“Emang sich kadang aku merasa Emi mang pengen menghindar dari kamu. Tapi aku nggak tahu apa alasannya. Kamu sama Eami nggakk ada masalah paa-apa kan?? Atau kalian mang sudah putus?” ujar Maya bertubi-tubi.
“Nggak tuch..aku ma emi baik-baik aja. Aku juga heran , kenapa Emi bisa gitu..”
“aku ngerasa sich, kalu kamu memang sudah gak di anggap lagi ma Emi. Soalnya kalo akau perhatiiin, kamu dicuekin mulu ma dia.
Satripun mengangguk lesu.
“Jadi mau kamu apa sekarang?”
Aku juga nggak tahu mau mo gimana lagi. Kan maya tahu sendiri kalo aku suka ma Emi”
Maya pun menganggukkan kepalanya.
“gini aja, gimana kalo kita kasi Eami waktu 3 hari untuk ngerubah sifatnya. Ntar kita juga Bantu. Tapi….”Mayapun langsung menghentikan ucapannya.

“iya sich. Tapi sekali lagi aku Cuma mau ngingetin kamu aja, sebenarnya Satria itu saying banget ma kamu. Dan aku berharap kamu jangan nyakitin dia. Dan aku saranin, lebih baik kamu bilang langsung ma dia harus menjadi kekasih yang tak dianggap untuk kamu.”

“Tapia pa/?” Tanya Satria penasaran.
“Tapi..,tapi kalo nggak berhasil juga, aku sranin kamuputusin aja Emi dari pada kamu harus makan ati dan jadi kekasih yang nggak pernah di anggap,” terang Maya.
Sejenak Satria menundukan kepala.
“oke. Aku mau. Lagipula percuma akau cinta dan sayang ma orang yang sama sekali nggak cinta ma aku.
Ujar Satria mantap.
Satria lalu beranjak dari duduknya.
“May, aku mo mintak tolong sekali lagi, ma kamu. Tolong tanyain ma Emi, apa cintanya itu mang buat aku atau buat sepeda motornya Nopan,” kata Satria sambil menunjuk pada Emi dan Nopan dan kemudian berlalu sambil meninggalkan tempat duduknya.

Tak terasa dua haripun berlalu. Namun tak ada sedikitpun perubahan sifat Emi kepada Satria. Meski Maya sudah memperingati Emi, tetapi sepertinya Emi tetap cuek dan sudah benar-benar men cap Satria sebagai kekasih yang tak dianggap.
“Mi, kamu masih jadian kan ma Satria?kok kayaknya aku gakk pernah liat kalian jalan baeng lagi?” Tanya Maya ketika bel pulang berbunyi.
“Eamang kalo yang namanya pacaran mesti jalan bareng?gak harus kan?”ujar Emi dengan cuek.
“iya sich…tapi sekali lagi aku Cuma mo ngingetin ma kamu ja, sebenarnya Satria itu benaran sayang bangat ma kamu, dan aku harap kamu janagn nyakitin dia. Dan aku saranin, lebih baik kamu bilang langsung ja ke dia kalo kamu mang sudah gak cinta lagi ke dia dari dia harus jadi kekasih kamu yang tak dianggap” Jelas Maya sambil membawa tasnya pergi meninggalkan Emi.
Tapi ketika di perjalanan, Maya bertemu dengan Satria dan teman-temannya.
“May, panggil Satria sambil menghampiri Maya”
Kenapa Satria?” Tanya Maya.
“Gimna? Kamu udah bilang ma Emi?” Satria balik bertanya.
“uda sich. Tapi kayaknya dia tetap cuek tuh. Ya mudah-mudahan ja besok Emi sudah berubah pikiran, hibur Maya begitu wajah Satria nunduk lemas.
“thanks yan May..”ucap Satria
Keesokkan harinya.
Teet …. Eet!!! Belpun berbunyi tepat setengah satu siang.
Itu berarti semua anak-anak diperbolaehkan pulang.
“May,,,maya…”panggil Emi.
Npa mi, jawab maya dengan jutek.
Aku cumamo mintak maaf ja yang kemarin, mang aku yang salah sudah nyuekin Satria. Setelah dipikir-pikir mang kami pantasnya jadi teman ja. Maya pun tersenyu lega.
Tampak dari kejauhan Stria memanggil Emi dan merekapun berbicara berdua. Tak lama kemudian pembicraanpun berakhir. “Kenapa” Tanya Maya penasaran kita sudah putus may, jawab Emi dengan senyum lebarnya. Aku mang salah selama ini sudah ngegantungin Satria sekarang mungkin lebih baik aku introspeksi diri dulu ja.
“Yaudah kalo gitu yuk kita Lets go.. “ ajak Maya.
Merekapun akhirnya pulang. Namun tampak dari kejauhan Satriamasih memangdangi Emi dan merekapun saling tersenyum

PenYesaLaNkU dErItA Ku

Nama : Emilia
NIM : 2007112084
PenYesaLaNkU dErItA Ku

“GoL..!!!”Sorakan anak SMP Negeri 4 Sekayu menggentarkan dunia menyambut gol pertamanya.
Ya, SMP Negeri 4 Sekayu dihebohkan oleh pertandingan sepak bola persahabatan antara SMP N 4 Sekayu dengan SMP Prabumulih. Dan selama 10 menit belum ada gol yang tercipta baik dari SMP N4 Sekayu maupun SMP Prabumulih. Akhirnya setelah dilakukan perpanjangan waktu, Smp N 4 Sekayu berhasil mencetak gol indah yang tercipta dari kaki Bayu Agustio.
“Ra siapa si nama co itu?”tanya Tessa.
“yang mana?”tanya Zarra sambil matanya bergerak ke sana-kemari. “itu lo yang bernomor punggung 13” yang barusan mencetak gol,” jelas Tessa. “hah lo nggak tahu siapa dia?”. “gue kan anak baru di sini, mana gue tahulah, gimana sich kamu!”
“iya..,iya gue baru sadar, namanya Bayu Agustio. Dia co yang sangat dipopulerin semua ce disini”. “ooo pasri karena parasnya yang ganteng, tinggi, putih, yang buat dia jadi dipopuleri ce disini”.
“nggak muga ah, selain pemnampilan luarnyayang perfect, dia juga pinter, peringkatnya nggak jauh-jauh dari 10 besar. “wah lo tahu tahu banyak tentang dia ya, lo pengangum berat Bayu ya??”
“nggak ah…!!!tepatnya lebih dari sekedar pengagum,” ujar Zarra dalam hati diiringi senyum geli. “Sa kanyin yukk!” ajak Zarra. “Males ah, gue lagi program diet.” “whatzz”lo diet?mau sekurus apa lagi lo? Ntar lo masuk muri lagi sebagai orang yang terkurus se indonesia. AyOlah Tesa! Ntar kantinnya penuh lagi.”ajak Tesaa sambil menarik tangan Zarra.
Zarra dan Tesa sudah berteman sejak kecil karena rumah mereka bersebelahan. Pada saat kelas 5 SD, ayah Tesa dipindah tugas ke jakarta. Namun saat Tesa kelas 3 SMP, ayahnya dipindah tugaskan lagi disini.
Saat pulang sekolah Zara mengajak Tesa ke rumahnya karena saat ini Zara sendiri di rumahnya. Ayah ibunya bekerja di luar kota, paling-paling seminggu sekali pulangnya.
“Ra kenapa lo nggak ikut bonyok lo ja pindah sekolah gitu?”
“nggak ah, tanggung bangat gue pindah , soal nya kan sekarang kita udah kelas 3.” Tesapun menghempaskan tubuhnya di sofa empuk milik Zaraa. “Sa gue ke atas dulu ya… mau ganti baju, gerah ni.” Setelah selesai ganti baju , Zara menemui temannya yang berada di ruang tegah. “napa Tes ? Muka lo keliatannya lagi bingung bangat.”Ah nggak tapi kok tiba-tiba gue jadi ingat Bayu ya. Eh ra kenalin gue dong, siapa tahu gue bisa temenan ma dia.
“em liat nanti ja dech. Oh ya gimana nyokap lo sudah ngelahirin lum?” tiba-tiba Zara mengalihkan pembicaraan. “ Belum, baru aja 5 bulan. Eh kok lo jadi ngalihin pembicaraan. Kenapa lo nggak mau ngenalin gue ke Bayu ya?”
“eh nggak kok gue Cuma” tiba-tiba
“kring-kring….”telepon di rumah Zara berbunyi. Kemudian diangakat oleh bi Munah pembantu Zara.
“siapa bi??” “ini non ada telepon buat non, katanya dari Bayu.” Wajah Zara langsung cemas, sedangkan Tesa heran tak mengerti. “eh bentar ya Sa.” Tesa tak menjawab. “Halo kenapa Bay?” “mau gak kita hari nonton, ada film horor kesukaan kamu. Kata teman-teman sich bagus, amu nggaakk??” “ehe gimana ya, gue gak bisa nich. Soal nya di rumah ue lagi ada Tesa, lo tahu kan?” “just ok, asalamualaikum..” walaikum salam..”
Kemudian Zara kembali ke ruang tengah. “ngapain Bayu nelpon lo?tanya Tesa penasaran. “ohh dia mau pinjam buku catatan matematika gue,” Zara berbohong. “lo kok ngomongnya jadi kaku gitu?”aha nggakk kok biasa ja” “mang Bayu sekelas ma kita?” “ya bangkunya berseberangan ma bangku kita.”
“serius lo, wah bagus nich”ujar Tesa.
Zara telah berdusta pada Tesa. Sebenarnya Bayu adalah pacarnya, tapi ia tak ingin semua orang tahu karena takut di labrak oleh semua ce-ce yang suka ma bayu.

Di dalam kelas,
“duh nih ibu, ngasih soal susah benar. Soalnya cuam dua tapi jawabannya bisa 1 halaman, apalagi no 2, lo bisa ngak??keluh Tesa.
“bentar-bentar, dikit lagi, uh akhirnya selesai juga.
Ok anak-anak, no 1 kita bahas bersama-sama, bu sara menuliskan jawabannya, setelah selesai bu sarah menanyakan soal no 2?saat itu Zara ingin mengangkat tangannya, namun Zara kaget sekali melihat Tesa mengangkat lebih dulu, ia tak menyangka sibatnya setegah itu, tapi ia mencoba bersabar namun kesabarannya menghilang ketika mendengar bu sarah memujinya.
Ketika pulang sekolah.
Tesa…jerit Bayu memanggil, padahal zara berada tepat di samping Tesa.
“kenapa bay?”
“ah ngak, gue cuam salut ja” oh makasih ya, ternyata jerih payah gue gak sis-sia” zara sangat jengkel dengan pengakuan dari Tesa itu.
“eh gue mau ke apotik dulu ya, tadi bu minah nitip obat sakit kepala
‘zara berbohong. “ mau gue antar? Bayu menawarkan. “ngak deh mending lo antar Tesa ja,” zara memancing. “oh ya udah hati-hati yach!
Gila, gue kan ce nya, adsar penghianat, sebel-sebel……Zara ngoceh sepanjang jalan, sampai-sampai orang-orang heran melihatnya.
Di kamarnya Zara sedang duduk di meja belajarnya sambil menulis puisi yang berisikan rasa kekcewaannya pada Tesa dan Bayu pacarnya.
“nih tolong muat puisi gue, ujat Zara males pada putri wakil mading.
Kemudian Zara melihat Tesa menggandeng co yang familiar siapa lagi kalau bukan Bayu
“gue pengen ngomong ma lo”
“gue juga”ujar Zara ketus” “lo duluan deh” “lo jahat banget yu, lo bilang ngak akan suka ma Tesa tapi mana buktinya, gue minta putus.” “bagus mang itu yang mau gue omungin, karena lo udah ngomong jadi bisa ngurangin beban lo dikit.”
“kalian berdua mang jahat, aku benci bangat ma lo berdua, benci…
“randa, tolong kasih surat ini ke Bayu ya,,oh ya gue juga mau pindah hari ini, soalnya gue udah kangen banget ma bonyok gue, ujar Zara sambil berlalu menuju kantor.
“oh lik liat ni puisi Zara yang buat lo” “udah lah paling dia minta di kasihani.”
“Bayu, Bayu Agustio,” pekik randa.
“ada apa sich pekik-pekik kayak di hutan ja, nie ada surat dari Zara buat lo, dia hari ini pindah” dan Bayupun langsung membuka surat Zara yang berisikan kekecewaan dan kepindahannya pada Bayu. “udahlah Bay, paling dia minta dikasihani.
Keesokan harinya Bayu tampak ngak semangat.
‘’anak-anak, kemarin ibu mendengar bahwa sahabat kalian meninggal dunia, Zara.”
“apa Zara, gak mungkin, ini npasti mimpi,” ujar Bayu dalam hati, rasanya ia pengen banget nusuk-nusuk peritnya dengan pisau.
“Zara kemarin mengalami kecelakaan ketika ingin pergi ke terminal, jadi ibu harap kalian dateng untuk berziarah.” Ketiak semua orang sudah pulang berziarah, banyu berlutut sambil mengenangi nisan Zara. Ra gue tahu in semua kesalahan gue secara ngak langsung. Gue nyesel banget, gue, pengen nebus kesalahan gue, dan gue harap lo nunggu gue di sana.sambil terus tersenyum. Gue bakalan neruisn hidup ini dan menjadi begian dari lo” sambil meneteskan air mata penyesalan.
Maaf…maaf kan aku sayang…

The end…

diLeMaKu

nama: Emilia
NIM : 2007112084

diLeMaKu

Pagi yang indah, disambut dengan kicauan burung-burung yang membangunkan setiap rumah, pada saat itu tepat setelah kami mengakhiri ujian semester ganjil, namun berakhirnya semesteran belum menuntaskan semua mata kuliah kami karena masih ada satu mata kuliah lagi yang memang pada saat itu belum tuntas yakni mata kuliah pementasan drama, seluruh mahasiswa dan mahasiswi semester ganjil yang mengikuti mata kuliah ini harus dapat menampilkan sebuah drama yang memerankan peran harus berdasarkan pada seisi kelas itu sendiri. Sebelum kami ditetapkan untuk me,erankan karakter tokoh tersebut secara satu persatu semua mahasiswa dan mahasiswi di casting untuk dapat mengetahui karakter apa yang nantinya akan kami terima Kami yang berada dalam satu lelasyakni kelas V.c terdiri dari 43 orang, jadi tidak memungkinkan semuanya untuk mendapatkan peran secara keseluruhan sehingga sangat banyak sekali yang tidak terpilih menjadi seorang pemain, salah satu diantaranya adalah saya sendiri yang tidak terpilih. “Aku harus menjadi pemain” ujar Heni salah satu teman kami yang sangat antusias pada mata kuliah pementasan drama ini. “Iya kamu ikut casting ja terus” jawab aku yang mengihibur. Dengan kerja kerasnya Henipun akhirnya terpilih menjadi pemain.
Waktu pementasan sudah 1 bulan lagi karena semua pemain sudah terpilih jadi latihan tetap berjalan, sementara semesteran. “Emi kamu kapan ke kampus lagi?Kita kompakan saja satu minggu mau pementasan baru ke kampus lagi?ajak Yuni. Iya aku sich terserah kalian saja, bukannuya kalian yang jadi pemainnya??..Kami semua pulang ke kampung masing-masing, belum lama di kampung kurang lebih 2 hari kami semua sudah mendapat berita di Face book bahwa besok semua mahasiswa dan mahasiswi ke;as V.c harus berada di kampus tepat pukul 9 pagi, aku betul-betul dilema apakah aku harus pergi ke kampus yang menempuh jarak 3 jam dari kampungku atau lebih memilih untuk tidak pergi dengan konsekuensi mendapat nilai D. “Kringg…….Kringgggg halo emi?kamu besok ke kampus nggakk??tanya Ira salah sat dari kelompok kami. Belum tahu ra, mungkin nggakk, karena besok aku mau ikut kakakku pergi” jawab ku dengan penuh kleraguan. Namun setelah berfikir panjang semalaman akupun tidak menemukan jawaban yang pasti hingga pagipun menjelang. Seteah aku terbangun dari tidur tidak tahu kenapa persaan ku mengatakan bahwa aku harus paergi.”pergi saja kalau masih ragu-ragu mungkin saja yang di beritakan temanmu itu benar” saran ibuku yang ikut prihatin dengan keadaanku yang penuh dengan keraguan. Akhirnya akupun pergi, di sepanjang perjalanan aku berfikir apakah pilihan aku ini benar??namun aku tetap optimis bahwa inilah yang terbaik. Sesampai di kampus aku sangat terkejut, “Emi kita di bohongi oleh teman-teman, ibu dosen tidak ada menginformasikan untuk kumpul hari ini” ujar heni temanku yang tiba di kampus lebih dahulu. Aku sangat kecewa akan pernyataan yang dikeluarkan oleh temanku itu, tapi aku yakin bahwa ini semua pasti ada hikmanya.
Kami berlima akhirnya berkumpul di kos-kosannya Heni saling bercerita mengenai keadaan kami yang kurang sehat, untuk menghilangkan rasa kekecewaan kami akhirnya kami berlima memutuskan untuk nonton 21 mungkin dengan begitu kami dapat menghibur diri. Setelah kami nonton, akhirnya pulang ke kosan masing-masing semabri menunggu 3 hari lagi untuk berkumpul dan latihan sedia kala. Aku tidak ikut berperan namun aku terpilih menjadi MC atau pemandu acara, akupun ikut latihan bersama dengan tman-teman lain yang menjadi pemain. Dengan hasil kerja keras dan semangat kami yang tak tanggung-tanggung semuanya berjalan dengan lancer dan hasil yang sangat memuaskan di hati. “Selamat kalian sangat hebat ibu bangga sekali, ibu minta maaf mungkin selama dalam pelatihan ibu ada salah bicara atau ada yang merasa tersakiti” ujar ibu dosen kami penuh dengan rasa haru. “Iya bu kami juga minta maaf mungkin dalam pelatihan ibu ada merasa jengkel atau merasa tersakiti kami juga ingin memohon maaf dari ibu. Dengan berhasilnya kami dalam mementaskan drama tersebut itulah akhir dari kami menggunakan waktu libur semesteran, kami foto-foto bersama dan saling bersalaman, setelah itu kami berpamitan. Kami semua kembali menikmati waktu libur dengan penuh rasa bangga atas berhasilnya pementasan drama yang sudah kami pentaskan.
THe eNd

IbU, kEmAnA SaJa KaU SeLaMa ini?

Nama : Emilia
Nim : 2007112084

IbU, kEmAnA SaJa KaU SeLaMa ini?

Sorotan mata itu telah kumiliki sejak enam bulan yang lalu. Sorotan dingin serta guratan wajah yang dialiri beban hidup. Aku sudah kasep dengan kedinginan itu. Sorotan yang melumpuhkan angan-anganku tentang kehangatan pemiliknya yang acapku temui bersama cincangan ubi. Seperti pagi yang sudah-sudah, dalam kebisuan yang meregang kehampaan ikatan naluri dua insan yang tak berhijab. Sebelum berangkat ke sekolah terlebih dahulu aku jajakan bungkusan cincang buatan ibu dari rumah makan kerumah makan. Tapi kali ini aku tidak perlu tergesa-gesa mengayuh federal tuaku, karena pasca Ujian Nasional telah seminggu.
Bungkusan berisi potongan ubi yang digoreng setelah dikukus, sudah tidak membebani sepedaku lagi, ketika melewati lampu merah, di sana tampak seorang bocah laki-laki mendekap setumpuk koran di dada telanjangnya. Lalu kudekati. “Dek, hari ini Palembang Pos memuat pegumuman PMDK‘kan?”
Bocah berusia 8 tahun itu mengangguk bersemangat, mengira aku akan membeli korannya.
“Mbak boleh lihat? Bentar… aja!” Aku membuyarkan kegirangannya.
Mata bulat berbinar yang penuh harap, seketika melotot dan mulutnya ikut bersungut. “Melihat berarti membeli, apalagi memegang!!” hardiknya memaksaku untuk beranjak.
Tanpa putus harapan, kukayuh sepeda yang batangnya sudah tak bermerk ke halte, tidak jauh dari lampu merah. Seorang bapak-bapak bertampang sangar, sedang menikmati selintingan tembakau di cerutu kuno dan sebentangan koran. Tubuhnya yang besar serta wajah yang dihiasi jambang yang lebat membuat aku ciut juga, namun apa boleh buat aku harus coba dulu. “Ya Tuhan… semoga dia…” belum sempat aku berada di sampingnya, tiba-tiba sebuah bus berhenti, bapak itu bergegas melipat koran dan menaiki bus. “Ya…,” aku hanya menghela nafas kecewa, tanpa semangat kunaiki sepeda yang hampir kusandarkan di tiang listrik. “Bagaimana ini, di mana lagi aku bisa lihat koran gratis!” bisik hatiku setengah putus asa. Kayuhanku mulai tak berdaya, sehingga aku pun berhalusinansi, di sebelah kiri pohon Akasia yang rindang melambai ke arahku, menawarkan kesegaran di bawah dekapan dedaunannya yang rimbun. Tanpa piker panjang, kurebahkan sepedaku dan aku pun menyandarkan punggungku di batangnya yang kokoh. Tidak beberapa detik menikmati kesejukan, suara yang tak asing menyapaku.
“Hai… fren… selamat ya… kau diterima di FKIP Kimia Lho…! wah-wah calon guru nih,” tepukan gulungan koran menyusul mendarat di pundakku. “Wow… kau rupanya, Teja? Selalu saja hadir dengan membawa apa yang kubutuhkan. Aku baru saja kepusingan nyari koran.” “Biasa ajalah. O ya, eh iya, aku ikut pergi nemenin kamu interview ya, Rif ?”
“Boleh-boleh! Tapi mana dulu namaku di koran ini? Aku mau lihat sendiri. Sapa tau kamu salah baca lagi.” Mataku sibuk mengamati deretan nama yang tertera di halaman koran. “Tu ha…, belalakan dikit mata tu kawan…”Eka menghujamkan telunjuknya tepat di nama Emilia
“Eh iya, ya! Kalau gitu kita pulang lagi yuk! Kau kubonceng saja kawan.”
Sesampai di tengah halaman, cepat-cepat aku turun dari sepeda tanpa sempat lagi menyandarkannya dengan baik-baik, seraya berlari masuk ke rumah. Kuhampiri sosok laki-laki yang terbaring lemah di sudut ruangan yang berhadapan dengan dapur. “Bah…, Abah… Emi lolos SPMB, Bah! Semoga ini jalan untuk meringankan biaya kuliahku Lengan kurus abah meraih pundakku kemudian bergerak mengusap kepalaku. Dengan nanti.” berlinangan air mata seraya terbata-bata memenggal kalimat. ”Apa pun langkahmu dalam meraih cita-cita, ayah selalu meridhoimu. Jadilah pahlawan dalam bercita-cita.”
Tatkala aku dan abah larut dalam kehangatan, dari dapur terlihat sosok yang sibuk membuka kukusan, sesekali melirik kami dengan tatapan yang biasa-biasa saja. Sedikit pun ia tidak memberi reaksi atau menanggapi kabar yang kuceritakan. Aku sudah terbiasa menghadapi sikap dingin ibu. Bahkan aku sudah tak ingat lagi dengan kehangatan yang pernah ia berikan. Mungkin itu adalah salah satunya pelengkap penderitaanku selain dari kemiskinan. Ibu terus mengaduk cincangan ubi di kukusan., kurasa ia muak dengan berita yang sedikit pun tak mengubah perekonomian keluarga. Kebisuan tanpa kecairan yang mampu kuciptakan bersama ibu, membuatku membantunya tanpa perintah dan diperintah. Kujerang kuali berisi minyak untuk menggoreng cincangan ubi yang baru selesai diangkat dari kukusan.
Pagi-pagi aku bergegas mengantarkan bungkusan cincang ubi ke warung-warung dan rumah makan. Aku tergesa-gesa, hingga aku mampir ke rumah Maya dan memaksanya untuk meminjam sepeda motor ayahnya.
Di perjalanan Maya begitu laju mengendarai Astrea ayahnya. Tatkala sampai di persimpangan jalan tak beraspal, sisa air hujan di beberapa lobang di jalan mengotori celana Apolo hitamku. Kemudian ban motor pun bocor, Karena sangking laju dan jalan yang buruk, ditambah bannya yang sudah tua.
Teja memandangku iba, ”Semangat sobat! Ini kode-kode alam! Sudah kau pelajari, bukan? Etika interview…” Maya mengembangkan senyumannya.
Dengan sedikit terobati rasa was-wasku oleh sikap teja, segera kubantu ia menyeret astrea ke bengkel yang kebetulan tak jauh dari tempat kami berdiri.“ Teja!”
“Apa sobatku tersayang…?”
“Andai saja Tuhan meminta aku menyerahkan orang yang kucintai, maka aku akan rela ia mengambil ibuku dari pada kamu.” “Ha, apa yang barusan kau ucapkan, kawan? Eling dong! Kasih ibu sepanjang masa, kasih sahabat sepanjang persahabatan.” Maya membayar upah bengkel dan kami pun tancap gas.
Proses interview telah hamper seminggu kulewati, dengan harapan yang semakin menggebu-gebu, kuingin lolos. Aku yakin aku lolos, sebab aku menjawab semua pertanyaan dengan tepat, dan sejujurnya, termasuk propesi orang tuaku. Aku terus bersabar menanti Maya hadir dengan teriakan ‘good luck my fren!’, ‘hebat kau kawan, traktir-traktir!’ atau apalah yang biasa keluar dari mulutnya. Kesabaranku sebenarnya sudah sangat renta, andai saja tak ditopang oleh ucapan bijak abah yang selalu menyejukkan hatiku.
Hari Sabtu sore ibu menugasiku memarut ubi untuk membuat bolu kukus pesanan tetangga yang akan mengadakan arisan. Sambil memarut ubi kuperhatikan lekat-lekat wajah tirus ayah yang semakin tak bergairah lagi. Rambutnya kian hari kian berguguran. Aku iba sekali dengan kondisi ayah, telah hampir empat tahun ia tidak menarik oplet lagi, artinya telah hampir 4 tahun pula ia terbaring. Abah, bertahanlah… tunggu aku menjadi orang. Izinkan aku mengabdi.
Ubi yang kuparut telah selesai. Dan kebetulan ibu baru saja pulang dari pasar. Ketika aku melemas-lemaskan pergelangan tangan, Teja datang dengan langkah dan pias wajah tak menunjukkan kegirangan. Perasaanku berubah tak enak. Apalagi kulihat segulungan koran di tangannya. Pelan sekali ia mendekat kepadaku seraya berbisik. ”Sabar sobat, perjuangan belum berakhir, Tuhan mungkin menakdirkan kita ikut SPMB bersama-sama.” Aku segera bangkit mendengar ucapan Maya“Jangan berbicara takdir, Tej! Kalau itu sama sekali tak mungkin. Kau kan tahu, dari PMDK ini saja aku entah kuliah entah tidak.” Kesal. Teja menatapku tak percaya, “Aku akan membantumu membeli formulir!” ia menmcoba mengertikan aku.
“Simpan bujukanmu, kawan.” Ibu sibuk dengan pekerjaannya, seperti biasa ia seolah-olah tak pernah dengar apa pun tentang permasalahanku. Dadaku semakin panas, pemandangan yang bergantian di benakku hanyalah wajah ayah yang terbaring lemah dan wajah ibu yang dingin. Aku tak lagi berfikir, untuk membenturkan kepalaku ke tembok rumah yang kulihat seperti susunan roti bantal yang empuk Kedinginan itu telah usai seiring tetesan terakhir darah dari ubun-ubunku.***
The End

Kamis, 24 Juni 2010

DARI BELAKANG
Oleh : Ica Alma
BABAK I
Disebuah asrama yang terdiri beberapa kamar seperti kos-kosan, di kamar blok D no.25 yang menghuninya 2 orang yaitu Ica dan Santi. Mereka masih berkeluarga sebab Santi itu adalah anak dari kakaknya Ica. Suatu saat merek bertengkar karena selisih paham, pada suatu hari Ica memanggil Santi.
Ica : Santi……Santi…….
Santi : Tidak menjawab ia hanya diam saja dan cuma melirik Ica. Ica berkata lagi sama Santi.
Ica : Santi mengapa kau diam, tadikan aku memanggilmu?
Santi : Tidak apa-apa aku hanya malas saja berbicara.
Ica : Mengapa begitu?
Santi : Teserah aku…….
Ica : Kok, kamu berbicara begitu?
Santi : Sudah ah……….aku mau pergi kuliah.
(Sambil pergi dari luar kamar)

Ica hanya diam dan sambil mengusapkan tangannya kedadanya sambil berkata didalam hatinya sabar….sabar…….
BABAK II
Tak lama kemudian Santi pulang kuliah, dan langsung membuka kamar sambil berkata-kata kasar sama Ica.
Santi : Ica tolong dong bilang sama nenek jangan sok kaya gitu deh
Ica : (terkejut mendengar perkataan Santi)
Emangnya ibuku salah apa?
Santi : Jangan kura-kura dalam perahu ya!!!!!!
Ica : Benar santi aku tidak tahu apa-apa memangnya ada apa dengan ibuku.
Santi : Aku benci sama nenek, dia telah menyakiti hati ayahku.
Ica : Tunggu dulu, memangnya apa masalahnya.
Santi : Tanya saja sama nenek alias ibumu!!!!!(sambil pergi)

AkhirnyaIca pergi juga menemui ibunya dirumah menaiki bus angkutan umum menuju Prabumulih tempat ibunya tinggal, beberapa jam kemudian Ica tiba di rumahnya.
Ica : Assalamuallaikum….ibu…..ibu..(memanggil ibunya)
Ibu : Wakalaikum salam……..(sambil membuka pintu) oh Ica anakku,,,ada apa sayang?? Kok pulang gak bilang-bilang….
Ica : Ibu, Ica mau menanyakan tentang ayahnya santi kakak ku, sebenarnya ada masalah apa antara ibu dengan ayahnya Santi?
Ibu : Ooooo…….itu ayahnya Santi terlibat hutang, sehingga mau pinjam uang sama ibu.
Ica : Ooooo…….begitu…….
Ibu : Iya sayang, kan adik-adikmu sekarang butuh uang juga apalagi adikmu kuliah di Universitas Kader Bangsa jadi butuh uang yang banyak saat ini.
Ica : Jadi ayah Santi tidak dapat pinjaman dari ibu.
Ibu : Iya………
Ica : Pantasan santi berlaku kasar sama Ica.
Ibu : (terkejut) apa……..??Santi berlaku kasar bagaimana terhadap Ica???

Ica tidak menjawab ibunya lagi Ica langsung pulang lagi ke asrama. Tak lama kemudian Ica datang ke asramanya, kebenaran Santi ada di asrama.
Ica : Santi mengapa kau membenci Ibuku itukan urusan orang tua kita kak kamu jadi ikut-ikutan.
Santi : (Tidak menjawab)
Ica : Ya sudah aku mau berangkat kuliah dulu.


Ica berjalan pulang kuliah dengan tiba di asramanya melihat tulisan dipintu kamarnya “perang terbuka…..kita berkelahi saja” Ica terkejut. Kemudian Ica pergi lagi kuliah pada saat itu Santi tidak ada di asrama. Tiba-tiba di jalan Santi sama pacarnya bertemu dengan Ica mereka berlawanan arah Santi dengan pacarnya memakai motor sedangkan Ica berjalan kaki, waktu Ica berjalan Santi tiba-tiba turun dari motor lalu memukul Ica dengan tangannya sebanyak 3 kali. Ica terkejut dan kesakitan tidak menyangka kalau Santi bakal berbuat nekad seperti itu Ica terkejut sekali melihat Santi yang ternyata memukul Ica dari belakang.











CINTA BUKAN KARENA MATERI
Oleh : Ica Alma

Dua sepasang kekasih yang berpacaran sudah lama sekali kurang lebih lima tahun usia hubungan pasangan Lesi dengan Wari.
Lesi : Gak kerasa ya sayang kita pacaran sedah lumayan lama.
Wari : Iya sayang, tapi mengapa ya kita masih saja berbeda pendapat, kayaknya susah sekali menyatukan pendapat kita.
Lesi : Iya, jujur aku belum mengerti dengan sifatmu walaupun kita sudah lama berpacaran aku merasa hati kita tidak cocok.
Wari : Tapi kok bisa ya kita bertahan sampai lima tahunan??
Lesi : Entahlah…
Wari : Sayang, aku mau Tanya, cinta sama aku karena apa??
Lesi : Karena kebaikanmu. Kamu???
Wari : Aku mencintai kamu karena semuanya apa-apa yang ada pada dirimu aku tulus mencintaimu apa adanya.
Lesi : Tapi mengapa kamu tidak pernah mengerti dengan hatiku.
Wari : Gak ngerti bagaimana bukankah apa-apa yang kamu inginkan selalu aku beri.
Lesi : Iya aku tahu, kamu selalu memberikan uang untukku , tapi aku juga butuh perhatian bukan materi saja.
Wari : Tolonglah sayang ngrti’in aku…….! Aku orangnya sibuk banget. Kamu kan tahu sendiri aku kerja dari pagi sampai sore jadi gak ada waktu untuk menemani kamu setiap saat.
Lesi : Tapi setidaknya kasih aku perhatian sesibuk-sibuknya orang pasti ada waktu untuk sms atau menelpon walaupun Cuma sebentar, aku rasa sms gak butuh waktu yang banyak kok, paling-paling gak nyampai 5 menit.
Wari : Apa aku gak pernah sms atau menelpon mu?
Lesi : Pernah……tapi jarang sekali, saya rasa kalau orang pacaran gak wajar aja kasih kabarnya seminggu sekali bahkan kamu pernah gak kasih kabar apalagi perhatian.
Wari : (marah-marah) dan langsung pergi. Sambil berkata sudah kalau tidak maungrti dengan kesibukan aku kita putus saja.

Lesi langsung menangis dan berlari menuju taxi, ternyata didalam taxi itu ada teman Lesi bernama Andika yang dulunya Andika itu adalah laki-laki yang sangat menyanyangi Lesi bahkan pernah menyatakan cintanya untuk Lesi tetapi Lesi menolak cinta Andika.
Andika : Lesi kamu ya? Mengapa menangis?
Lesi : (bercerita panjang lebar dengan Andika) aku baru diputusin sam Wari
Andika : Memangnya mengapa?
Lesi : (tidak berkataapa-apa ia hanya menangis disandaran Andika).

Rabu, 23 Juni 2010

GARA-GARA CAPER

GARA-GARA CAPER


Di sebuah sekolah ada 2 orang yaitu genk GMB dan genk GAP,( genk GMG mengira GENK GAP sama pak

yus) pak yus adalah satu-satunya guru ganteng dan masih jomblo,banyak semua siswi mengejar pak yus

tapi para siswi takut kalah saing sama genk GMG yang sangat terkenal di sekolah karena genk GMG juga mengejar pak yus.

Esty : eh ima kamu udah mengerjain PR minggu kemarin belum?

Ima : PR yang mana?

Esty : PR bahasa Indonesia masak kamu lupa sih?

Ima : Aduh...... aku belum ngerjain, abis kemarin aku sangat sibuk banget

Esty : ya..... gimana dong ini kan pelajan pak yus

Ima : iya...yah, gi mana nih?

Esty : eh...eh, liat tuh genk GAP

Ima :Ah..... aku ada ide gimana kalau kita suruh mereka aja ngerjain PR kita kalau mereka enggak
Mau kita paksa aja

Esty : Ide yang bagus

Esty : eh.... iin dika nih kerjain PR aku sama IMA

Ima : kerjain yang bener yah, awas kalau ada yang salah

In : kalian kira kami pembantu kalian apa?

Dika : udah In kerjain PR nya

LALU PAK YUS PUN LEWAT DI DEPAN MEREKA BER-4

Ber-4 : pagi, pak yus

Pak Yus : pagi anak-anak, kalian lagi ngapain kok ribut-ribut?

Ima : enggak lagi ngapa-ngapain kok pak, iya kan?

Ber-3 : iya pak,

Pak Yus : ya udah pak kekantor dulu ya

Ber-4 : Iya pak

JAM ISTIRAHAT

Ima : eh...... kalian tadi tadi ngapain dikelas caper banget sama pak yus caper

Esty : Iya nih caper bang et

Iin : siapa yang caper memang terbukti kan kami memang lebih unggul dari pada kalian ber-2

Dika : Udah In sabar aja enggak usah urusin orang gila

Ima : apa lho bilang tadi gila, eh kalian enggak mikir yah kalian itu siapa, kalian hanya anak orang miskin yang bergaya Sekolah di tempat orang-orang kayak gini

Dika : kalian ini di diamin ngelunjak yah

Iin : kalian boleh ngatain kami tapi kalian enggak boleh ngatain orang tua kami

Dika : kalian ini apa sih maunya?

Ima : kami mau kalian enggak caper lagi sama pak yus

Iin : kita enggak caper sama pak yus dasar kalian aja karas kepala.

Lalu pak yus melihat dan mendengar bahwa genk tersebut sedang berperang mulut dan hampir saja perang benaran sehingga cepat-cepat menengahi dan memarahi mereka.

Pak Yus : Stop, kalian ini enggak malu yah di lihatin orang kalian semua sudah kelas 3 masih saja kayak anak kecil, cepat sekarang juga kali saling bermaafan.

Ber-4 : Iya pak

Akhirnya mereka ber-4 saling bermafaan dan juga bersahabet dengan baik, sehingga genk mereka pun di nama kan ACP ( anti cari perhatian ).


Karya : yusmansyah 6 c

BERTENGKAR DI SEKOLAH

Contoh Drama


BERTENGKAR DI SEKOLAH


Disebuah sekolah yang sangat terkenal dan terpandang terdapat anak-anak yang pandai dan cantik
tetapi di antaranya ada yang lebih populer mereka membuat geng dan diberi nama vowerful tetapi mereka juga tersingkir hanya karena anak baru yang ingin masuk sekolah itu.

Ibu Aliyah : Selamat pagi anak – anak kita kedatangan murid baru, ayo perkenalkan diri kamu.

Alda : Nama saya Renalda Veronika saya pindahan dari sekolah cendana 2 didaerah solo.

Ibu Aliyah : Apa kamu sudah siap untuk mengikuti pelajaran harini.

Alda : Ya.bu saya sudah siap.

Ibu aliyah : Baiklah silahkan duduk di sebelah sana.

Alda : Terima kasih, bu.

Ibu aliyah : Sekarang buka bukunya di halaman 34 dan kerjakan sekarang,apabila waktunya sudah
Habis kerjakan di rumah.

(Setelah pelajaran berlangsung bel istirahat berbunyi)

Amanda : Gimana kalau anak baru itu kita kasih pelajaran.

Tika : ayo

Amanda : Tapi dia ada dimana.

Tika : Tadi aku lihat dia ada di kelas, dan dia tadi lagi sendirian.

Amanda : Kalau gitu kesempatan banget dong,untuk mengerjain anak baru itu gimana,ayo?

Tika : Eh anak baru lho itu, nggak usah carmuk and caper yach!

Alda : Emangnya guwa carmuk and caper ma siapa.

Amanda : masih nanya lagi.

Tika : ya sama anak- anaklah dan guru – guru disinilah, and lho tau nggak , kita ini anak terpopuler disekolah.

Alda : oh gitu yah.

Amanda : ya italah makanya lho itu nggak usah macem- macem sama kita.

Tika : apalagi caper sama ibu aliyah.

Alda : emangnya kenapa?

Amanda : karena kita itu juga anak – anak ke sayangan ibu aliyah,dengar gak.

Alda : tapi kenapa harus gitu emangnya peraturannya gitu?

Tika : eh lho tuh nggak usah banyak tanya dech, lho tu turutin aja kemauan kami awas ya, kalau kamu melaporkan sama ibu aliya tanggung sendiri akibatnya.

Alda : maaf dech sayakan anak baru disini jadi saya nggak tahu peraturannya.

Amanda : peraturannya sich nggak gitu,tapi karena tika adalah anak yang pinter and cantik juga kaya maka dari itu banyak anak- anak dan guru disini sangat senang sama dia.

Alda : aku mau tanya boleh gak aku ikut geng kalian ?

Tika : apa mau ikut geng kita, coba ulangin!

Alda : iya ikut geng kalian.

Amanda : ya nggak bolehlah, dasar sinting lho tu sadar dong kamo itu siapa.

Tika : tapi kalau kamu mau boleh kok,and kamu harus memenuhi syarat.

Alda : syarat! Syarat apa ?

Ibu Aliyah : eh ... ada apa sih, kalian ini ngomongin syarat emangnya syaratb apa?

Tika : ini bu”syarat untuk ikut geng vowerful kita . eh saya keceplosan!

Ibu Aliyah : apa tika coba kamu ulangin kata- kata kamu tadi.

Amanda : nggak kok bu !

Ibu Aliyah : sudah jawab yang jujur kalian ngomongin apaan.

Alda : enggak kok bu” bukan apa- apa.

Ibu Aliyah : kamu nggak usah bohong , apa yang di katakan tika tadi benar ?

Tika : yang tadi ,itu bukan apa-apaan si bu.

Ibu Aliyah : kalau dintara kalian tidak ada yang mau mengaku , kalian akan ibu hukum.

Amanda : ini bu alda kita bolehkan carmuk and caper ma anak- anak and guru- guru di sekolah ini ,
Keciali kalau dia sudah ikut geng kita and itupun ada syaratnya.

Ibu A liyah : jadi seperti itu permasalahannya kalian tahukan si alda anak baru masak kalian ancemin
Seperti itu.

Amanda : nggak kok bu “ beneran dech.

Ibu Aliyah : yah sudah kalian bikin ibu pusing saja sekarang kalian minta maaf.

Tika : yach bu” kok gitu sih.

Ibu Aliyah : atau kalian mau mendapat hukuman.

Amanda dan Tika : iya bu

Amanda : alda maafin kita berdua yah sebagai gantinya lho di terima masuk genk kita.

Alda : beneran.

Tika : ya

Alda : wah terima kasih banyak ya.

Tika : sama- sama.

(Merekapun menjadi sahabat yang sangat akrab)

Karya : Yusmansyah

CINDERELA

CINDERELA


Di sebuah kerajaan terdapat seorang putri yang sangat cantik jelita. setiap pemuda yang melihat sang putri tersebut seakan matanya tidak bisa berkedip lagi melihat sosok putri yang cantik tersebut, ketika sang putri atau sering di panggil jasmin sedang mandi di sebuah danau bersama ke enam dayangnya tanpa sepangetahuan mereka ada seseorang pemuda yang sangat tampan dan gagah perkasa beserta ke dua temannya yang melewati danau yang berada di depan jasmin dan ke enam dayangnya diapun tidak menyadari bahwa adanya pemuda yang hendak melewati danau tersebut, ketika pemuda tersebut menengok kekiri danau ada suara – suara gadis yang bercanda ria kemudian merekapun berhenti untuk melanjutkan perjalanan mereka, daun – daun yang bergoyang seakan memberi tanda bahwa ada yang mencurigakan akhirnya sang putripun mengetahui bahwa mereka sedang di lihat, kemudain jasmin beserta ke enam dayangnya berhenti untuk mandi.
Akhirnya merekapun mengetahui akan keberadaan pemuda tersebut dan berkata “ hai pemida keluar kalian kami sudah tau kalau kalian sedang melihat kami yang sedang mandi, kemudian keluarlah pemuda beserta kedua temannya tadi dan menjawab “ maaf sang putri kami tidak bermaksud hendak melihat kalian mandi saya dan juga teman saya hendak melewati danau ini saya mendengar suara kalian sedang mandi sekali lagi saya minta maaf, jawablah jasmin tersebut dan berkata baiklah pemuda saya maafkan kalian ada satu hal yang harus kalian jawab emangnya kalian hendak kemana jawablah pemuda tersebut kami bertiga ingin mencari jati diri yang sebenarnya dimana sampai langkah kaki ini bisa melangkah.
Terkagumlah si jasmin setelah mendengar ucapan pemuda tersebut.
Akhirnya pemuda tersebut meninggalkan si jasmin dan melangsungkan perjalanannya mencari jati diri, begitu juga si jasmin dan ke enam dayangnyapun meninggalkan danau tersebut.Keesokan malamnya jasmin bermimpi seakan- akan pemuda yang baru ia kenal tidi hadir di dalam mimpinya dia membawa jasmin kesebuah tempat yang sangat indah tiba- tiba datanglah ayah handanya si jasmin yang datang menghampirirya dan berkata “ jasmin siapa pemuda yang bersama kamu ini yang datang menghampirinya dan berkata “ jasmin siapa pemuda yang bersama kamu ini jawablah si jasmin pemuda ini adalah pangeran yang akan menjadi raja di negeri kita akhirnya jasmin pun terbangun dari mimpinya,sehingga jasmi pun menghadap ayahandanya dan berkata ayanda semalam saya bermimpi bertemu seorang pemuda yang sangat gagah perkasa didalam mimpi saya ayahanda merestui hubungan kami berdua dan menjadikan pemuda itu sebagai pasangan saya,jawablah sang raja “ wahai anak ku ayah ingin kamu mencari pemuda yang kamu impiikan itu ayah pasti merestui hubungan kalian berdua dengan senang hati jasmin pun menyuruh pengawalnya untuk mencari pemuda tersebut yang pernah bertemu di saat mereka sedang mandi di sebuah danau, Hari ke hari, bulan ke bulan jasmin menunggu akan kedatangan pemuda yang baru ia kenal setiap hari jasmin menanti akan adanya pemuda tersebut di danau bersama dayang- dayangnya, sumbipun berkata salah satu dari dayangnya maf sang putri sampai kapan lagi kita terus- terusan menunggu akan kehadiran pemuda yang udah membuat perasan hati tuan putri jadi jatuh cinta, jawablah si jasmin aku juga tidak tau sampai kapan aku harus menunggu kehadirannya mungkin ini hanya pertemuan yang terakhir kita bisa bertemu sama pemuda tersebut “ ya mungkin aja itu merupakan pertemuan terakhir, tapi perasaanku mengatakan di akan kembali kesini lagi “ maf tuan puatri sebaiknya kita pulang dulu udah malam pasti tuan putri ud kecapean.
Besok harinya tuan putri sendirian menunggu pemuda tersebut di pinggir danau dia mendengar ada suara pemuda yang hendak melewati pinggiran danau kemudian jasminpun mengintai kejauan rupanya sekumpulan perampok yang sedang merampok rumah warga, ketika jasmin hendak pergi tanpa di sengaja kaki jasmin tersangkut oleh ranting akhirnya jasmin pun ketahuan oleh perampok tersebut” wah ada cewek cantik disini ucapan perampok tersebut lalu perampok menghampiri jasmin yang hendak memperkosa si jasmin tiba- tiba tanpa sepengetahuan jasmin perampok itu di hajar oleh pemuda yang gagah berani akhirnya semua perampok pun lari pemuda itupun adalah orang yang selama ini ditunggu- tunggu jasmin.akhirnya pemuda itupun menghampirinya dan berkata kamu tidak apa-apa pandangan demi pandangan yang terlihat oleh jasmin tanpa bersuara pemuda itupun teringat bahwa dia pernah melihat orang yang pernah mandi di danau ini bersama dayang- dayangnya akhirnya jasmin pun berkata ya saya selama ini menanti akan kedatangan kamu tanpa berkata-kata lagi jasmin mengungkapkan perasaannya terhadap pemuda itu “ maukah kamu menjadi pendampingku tertawalah pemuda itu “ kita belum kenal mana mungkin kita secepat itu untuk menjadi pendamping kamu “ ya aku lupa nama saya Jasmin dan kamu Mandanu, jadi gimana baiklah aku mau
Menjadi pendamping hidupmu.


Karya: Yusmansyah

Cinta persahabatan

Cinta persahabatan


Awalnya ada dua sahabat yang terjalin dengan begitu baik, sebut saj namanya Arjun dan Putra, mereka berdua bersahabat sejak duduk dikursi SMA, apabila ada tugas, mereka selalu mengerjakannya berdua, begitu pula kalau berjalan si Arjuna selalu meminta ditemani putra dan sebaliknya, kalau ada permasalahan di antara mereka berdua pasti cepat di selesaikan sampai kelas. Suka dan duka mereka selalu rasakan bersama.
Suatu hari Arjuna hendak berangkat kesekolah, tanpa disengaja dia melihat sosok perempuan yang sangat cantik jelita, kemudian si Arjuna menghampiri si cewek tersebut, anggap saja namanya Oktarianti dan berkata “hai...mau nggak ikut saya.....” iya takutnya kamu nantinya kemasukan sekolahnya”, jawablah si okta “terima kasih lain kali aja, nggak apa-apa, bukankah kita searah sekolahnya” tanpa berfikir dua kali okta pun ikut arjuna.
Tibanya di sekolah okta pu turun dari sepeda motornya arjuna dan berkata “makasih ya kak arjuna, udah mengantar okta ke sekolah”, dengan menghembuskan nafas panjang arjuna pun menjawab ya nggak apa-apa mungkin saja aku bisa jadi sopir pribadimu sambil tertawa.
Akhirnya si okta pun memasuki gerbang sekolahnya begitu pun arjuna pergi meninggalkan pintu gerbang sekolah okta, sesampai disekolah arjuna, datanglah putra dengan wajah yang riang dan berkata “ jun ada apa sih kamu.., senyum-senyum sendiri kayak orang gila saja nanti kamu kesambet nenek-nenek sihir hehehe....” sambil bercanda terhadap arjun, kemudian arjunn menceritakan tentang kejadian barunya. Bahwa aku hendak berangkat sekolah aku bertemu cewek yang sangat cantik seperti bidadari yang turun dari kayangan, kemudian aku antar kesekolahnya “dengan seriusnya siputra mendengar cerita arjun” akhirnya putra pun berkata “emangnya siapa namanya “ dan jawablah arjun “ namanya Okta “ nanti kamu akan aku kenalkan sama dia, tetapi nanti ini baru proses.
Dengan begitu seriusnya putra pun berkata “awas janji yaaa...” kamu kenalin sama aku ya kalau sudah jadian, arjun menjawab” pasti dong aku kenalkan sama kamu”, dengan rasa senang kedua sahabat tersebut melanjutkan perjalanannya.
Keesokan harinya arjun menepati janjinya yang akan mengenalkan okta sama dirinya, ketika dikenalkan oleh arjun ternyata putra merasa senang sama okta, kata arjun mengambil air di dapur secara diam-diam putra, dibelakang arjun mengungkapkan kata-kata”kamu sangat cantik sekali, okta pun menjawab kamu bisa aja”, putra, gimana kalau besok kita jalan bareng ???? mau nggak... tapi diam-diam saja sama arjun takutnya dia salah pada kita, okta menjawab baiklah kalau begitu saya tunggu yaa, begitu asyiknya ngobrol datanglah arjun yang sedang membawa secangkir air buat okta, dan berkata “ta besok kita jalan yaa” okta mendengar ucapan arjun, okta pun terkejut sambil melihat wajah putra, arjun terdiam dengan alasan yang terbungkam di mulut okta arjun sangat percaya bahwa okta akan ikut orang tuanya berkunjung kerumah neneknya.
Dihari berikutnya sekitar jam 14.30 WIB putra menemui okta, okta menepati janji yang kemarin. Akhirnya mereka berdua pun pergi ke sesuatu tempat, tanpa di ketahui sedang asyiknya bercanda gurau arjun melihat okta bersama putra yang bermesraan di taman bunga,”dengan penuh emosinya arjun menghampiri mereka berdua dan berkata “ini yang kamu bilang kerumah nenek, ternyata kamu berdua bermesraan” dan juga kamu putra aku tak habis fikir sahabat yang aku percaya ternyata menusukk dari belakang, mulai dari sekarang diantara kita tidak ada kata bersahabatan lagi, sambil meninggalkan okta dan putra.
Akhirnya arjun mengendarai sepeda motornya dengan begitu kencang ditangah perjalana arjun tidak bisa mengontrol dirinya sambil berkendaraan, arjun pun menabrak batang pohon yang ada di pinggir jalan, akhirnya arjun dibawa kerumah sakit. Sesampai di rumah sakit okta bersama putra melihat sesosok badan yang terbaring dengan wujud yang penuh luka, okta berkata kepada putra”putra !!! kenapa kamu melakukan semua ini ?? bukankah kalian berdua sudah bersahabat dari kecil tapi mengapa kamu menyakiti perasaan dirinya, kamu memang kejam sambil menangis terseda-seda, putra pun menyesali atas perlakuan dia terhadap arjun, setelah siuman dari tempat tidurnya arjun melihat sesosok perempuan dan laki-laki yang sedang melihatnya, ternyata perempuan dan laki-laki tersebut rupanya okta bersama putra”dan berkata untuk apa kalian datang kesini, kalian sudah puas sudah menyakiti perasaan aku, dan kamu putra aku sangat kecewa sekali sama kamu, rupanya aku sangat salah, aku sangka kau adalah sahabat yang paliang baik ternyata kau jahat dengan begitu malu putra mengakui atas kejahatannya dia meminta maaf terhadap arjun, akhirnya arjun pun memaafkan atas semua kesalahan putra dan okta pun berada di pelukan arjun.

Karya : Yusmansyah

CADAR HITAM MEMANCARKAN CAHAYA KEBENERAN

CADAR HITAM MEMANCARKAN CAHAYA KEBENERAN


Cadar Hitam memancarkan cahaya kebenaran Anngap saja Akhwat tersebut sumi yang setiap harinya sumi bersetatus seorang mahasiswi UNIV PGRI palembang setiap kekampus sumi selalu berpakaian yang anggun memakai hal layak seorang muslimah dan kelebihannya selalu memakai cadar, banyak sekali ikhwah yang suka terhadap sumi salah satunya yusuf dia selalu mangejar sumi dimana sumi itu berada tetapi tiap kali yusuf mengungkapkan cintanya selalu ditolak oleh sumi,karena sumi belum siap untuk menerima seseorang ikhwah didalam hatinya, dengan berkata seperti itu yusuf sangat kecewa sekali terhadap sumi atas perlakuan sumi terhadap yusuf.
Pada suatu hari sumi hendak pulang dari pasar, tiba-tiba yusuf menarik kedua tangan sumi, kemudian sumi di bawa yusuf ketempat yang sangat sunyi, dengan dengan begitu kesalnya sumi langsung menampar yusuf, dan berkata ‘’ kamu memang tidak tau diri seorang laki-laki kamu seorang pengecut, dengan kekesalannya yusuf memaksa sumi untuk melepaskan pakainya, tetapi sumi dengan keimananya sumi bisa selamat atas kebiadapan yusuf, akhirnya sumi lari dari tempat tersebut
, mengejarlah yusuf untuk mencoba mencari sumi dengan begitu cepatnya sumi lari tetapi yusuf menemukannya ‘’ sumi menjerit meminta tolong.
Dari jeritan sumi tidak disengaja seorang ihkwat yang berkendaraan bermotor dia mendegar jaritan seorang ihkwati yang sedang igin diperkosa oleh seorang ihkwat, dengan begitu ihkwat tersebut menghajar yusuf sampai babak belur dan akhirnya yusuf pun lari. Sumi sangat ketakutan sekali tetapi ihkwan yang menolong sumi tersebut ‘’ berkata kamu tidak apa-apa jawab sumi saya tidak apa-apa, kalau tidak ada kamu kemungkinan tidak tau lagi apa yang akan terjadi pada diri saya. Sumi berkata ‘’ ihkwan nama kamu siapa? Jawab seseorang ihkwat panggil saja saya Usman.Sumi berkata terimakasih ya usman kamu sudah menolong saya, saya tidak bisa membalas atas kebaikan antum terhadap saya, dengan begitu senangnya sumi dengan diam-diam menyukai usman dan begitu juga usman sangat senang bisa bertemu sama sumi, kemudian mereka berdua saling mengagumi dan saling mengungkapkan perasaan mereka berdua, tetapi semua itu tidak disukai oleh yusuf, atas kelicikan yusuf motor yang selalu dikendarai oleh usman tiba- tiba tidak bisa dikendalikan usman sehingga usmanpun kecelakaan menabrak pohon yang ada dijalan,kemudian usmun dibawah ke rumah sakit atas kebiadapan si yusuf dengan kejadian tersebut yusuf pun merasa ketakutan karena semua ini gara- gara yusuf.
Keesokan harinya Sumipun terkejut setelah mendengar bahwa usman masuk rumah sakit dengan hati yang pilu sumi pun menengok si usman di rumah sakit, rasa kesedihan terlintas di wajah sumi setelah melihat usman yang terbaring tak berdaya sumi merasa sedih dan mengangis pilu karena merasa takut kehilangan seseorang yang sangat disayangi dan yang telah membantu menyelamatkan dirinyaatas kejahatan yusuf yang marasa sakit ati karena sumi sudah menyakiti hatinya tangisan pun terlintas diwajah sumi,tidk lama kemudian datanglah ibunya si usman dan berkata kepada sumi “ nak kamu temannya usman jawablah sumi dengan wajah yang terkesima ya bu saya adalah temannya usman” katanya kamu pacaran sama usman ledeknya bu sarini dengan wajah seperti di sambar petir sumi kaget setelah mendengar ucapan ibunda usman akhirnya usmanpun terbangun setelah sudah lama masa kritisnya.
Hari demi hari berlalu usmanpun dapat berkumpul lagi bersama temen- teman di kampusnya tidak lama kemudian datanglah si sumi dengan wajah seneng setelah meliht usman sudah dlam keadaan sehat, kemudian merekapun pergi keperpustakaan untuk mencari buku membuat tugas tidak lama kemudian datanglah si yusuf dengan melihat usman bersama sumi yang begitu romantis dengan emosinya yusufpun menghajar usman sampai babak belur akhirnya sumipun menampar dan berkata “ hei yusuf apa-apaan kamu, kamu perlu ingat ya dianatara kita tidak ada apa- apa kamu harus menyadari dengan kenyataan ini aku tidak ada sediktpun mencinyai kamu, dengan rasa sedih yusufpun terkejut setelah mendengar atas ucapan yang terlontar dari mulut sumi, kemudian jawablah yusuf dengan berat hati “ baiklah sum mungkin selama ini aku salah menilai kamu kusangka kamu mencintai aku juga ternyata tidak “ oke jika udah keputusan kamu aku tidak bisa memaksakan kehendaku, aku hanya bisa mengucapkan selamat buat kamu man kamu hebat sekali sudah mendapatkan sumi satu hal yang aku pinta dari kamu tolong kamu jaga sumi seperti kamu menjaga kedua orang tuamu ,mungkin kita tidak akan pernah bertemu lagi sebab aku akan meninggalkan kampus ini bantahlah si usman emang kamu mau kemana dan kenapa kamu berbicara seperti itu, yusuf” karena aku tidak mau melihat keadan ini mungkin dengan cara ini aku bisa melupakan semunya maafi aku ya sum dan juga kamu man aku sangat berdosa sekali gara- gara aku kamu kecelakaan bantah si usman” maksud kamu apa suf dengan berbicara seperti itu , apakah kamu yang melakukan semua itu tertunduklah wajah yusuf dengan rasa takut setelah mendengar kata – kata yang terlontar dari mulutnya si usman akhirnya yusufpun menjawab “ ya akulah yang melakukan semua itu karena aku tidak mau sumi mencintai orang lain dengan penih amarahnya sumi memukulin yusuf karena selama ini hampir mencelakai usman sampi kritis, akhinya usman pun berkata “ sudahlah sum yang lalu biarlah berlalu sekarang yang penting yusuf sudah mengakui atas kesalahannya.
Karya : Yusmansyah

JEMBATAN AMPERA

JEMBATAN AMPERA


Kota palembang merupakan kota yang indah, bersih, juga kota yang sering disebut kota metropolitan, dikota palembang mendapatkan adipura sebagai kota bersih, di palembang sangat indah dengan adanya jembatan ampera, kemudian dimalam hari jembatan ampera penuh dengan rasa keindahan di setiap jalan selalu dipasang lampu-lampu yang berkilauan. Banyak sekali kendaraan yang hilir mudik kesana dan kemari.
Suatu hari yus bersama kedua teman saya yang bernama rini dan putri sedang jalan-jalan diatas jembatan ampera, putri berkata”yus indah sekali sungai musinya” jawablah yus yang sedang asyik menikmati akan keindahan jembatan ampera dan sungai musinya”iya putri sangat bagus sekali pemandangannya, tanpa di sengaja rini melihat seorang pemulung yang masih kecil hendak mengambill bekas minuman orang untuk di jual kembali , dengan meneteskan air mata rini tidak tega melihat anak sepruhnya baya itu untuk mencari uang sendiri,sedangkan dia sangat masih kecil gimana dimasa kecilnya tidak layak untuk disuruh bekerja,dengan hati sedih akhirnya rini menghampiri anak tersebut dan berkata dek masih sekolah ya” jawablah anak tersebut tidak lagi kak ,saya sudah lama tidak sekolah semejak di tinggalke oleh orang tua”, dalam hati rini ya allah sungguh kasihan sekali anak ini dengan rasa penasaran rini terus bertanya terhadap anak tersebut emangnya orang tua kamu dimana jawablah anak tersebut kak aku juga gak tau dimana kedua orang tua saya semenjak aku kecil sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua saya “ jadi sekarang kamu sama siapa aku sama nenek saya dialah satu- satunya orang yang aku sayangi”,terkejutlah si rini mendengar cerita anak tersebut dengan hati yang sembilu rini memberikan nasihat terhadap anak tersebut , kemudian datnglah yus bersama putri yang hendak mnghampiri Rini dengan anak paru baya tersebut “Yus ada Rin kok kamu menangis, Rini pun menjawab, sini Yus, adik ini ada masalah dalam hidupnya dan selalu menderita ia ditinggalkan oleh kedua orang tuanya semenjak ia berumur tiga tahun. “yus pun bertanya pada anak tersebut, dek nama kamu siapa ? jawablah sianak paru baya, kak nama saya juita, saa dibesarkan oleh Nenek saya, sedankan kedua orang tua saya sudah bercerai ketika saya masih berumur tiga tahun, kedua orang tua saya tidak tahu lagi ada dimana sampai sekarang saya dibesarkan oleh Nenek saya, untuk itulah saya bekerja sebagai pemulung untuk menafkahi Nenek saya, apalagi Nenek saya sudah tua rentah mana mungkin masih bekerja lagi makanya saya sebagai tulang punggung nenek saya, Yus pun menjawab “dek sabar ya denga berkata seperti Yus pun meneteskan air matanya didalam hatinya alangkah mulianya hati anak ini, dan juga aku tidak menyangkah adapun anak seperti Juita ini tegar dala menghadapi segala cobaan dan berhati mulia terhadap Neneknya raan kaka seebab “dek kakak akan membantu kebutuhan keluarga Juita, Juita pun menjawab terima kasih kak atas tawarannya, tapi kak juita tidak bisa menerima tawaran kakak sebab saya takut bagaimana juita akan membayarnya nanti, bukankah kak sendiri masih bergantung dengan orang tua. Kakak tau sendiri dimana sehari-hari sebagai seorang pemulung sampah, jawablah “yus pun membantah Juita tidak usah berpikiran seperti itu, kakak ikhlas membantu keluarga juita, Juita pun ingin menolak tawaran kakak Yus, Yus pun menjawab tidak ada tapi-tapian bantahlah si Putri ya dek terimah saja tawaran kak Yus “ baiklah kak ‘’ juwita sangat senang sekali mendegarnya pasti nenek akan merasa bahagia mendengar semua ini, tiba depan lorong menuju rumah juwita, tiba-tiba juwita melihat banyak sekali para warga dirumahnya dengan hati yang was-was juwita melangkahkan kaki memasuki kamar neneknya dia melihat seorang perempuan telah terbaringkaku tidak bernyawa lagi ‘’ dengan hati yang hancur juwita tidak bisa menahan perasaannya karena orang sudah diangap orang tuanya sendiri kini telah tiada meningalkan dirinya untuk selamanya ‘’ kak yus, putri, beserta arini merasa sedih seperti apa yang dirasakan juwita,kemudian yus pun menghampiri juwita dan berkata kak juwita tidak lagi siapa yang akan membantu juwita kini orang yang juwita sayangi telah tiada ‘’ yus, ta kamu sabar kakak yakin dikehidupan kamu nanti pasti akan membawa kebarokahan tapi juwita tabah dan semangat untuk menjalankan cobaan hidup ini kamu jangan takut biarlah kakak yang akan membantu juwita sekarang juga kamu ikut kakak kita kerumah kakak ’’ jawablah juwita tapi kak apakah orang tua kakak tidak marah apa bila kehadiran saya dirumah kakak, sebelum juwitan kasih tau kakak,kakak sudah memberi tau orang tua kakak,katanya kamu akan menjadi bagian dari keluarga kakak.dengan meneteskan air mata juwita memeluk kak yus dan berkata terima kasih banyak kak atas kebaikan kakak,akhirnya merekapun menuju kerumah kediaman kak yus.

Karya : Yusmansyah